Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Gambar
Baiklah teman-teman pembaca yang budiman, pertama-tama izinkan saya meminta maaf atas keterlambatan penerbitan jurnal lanjutan gw kali ini. Mungkin kalo diizinkan beralasan, ini semua karena mood yang angin-anginan datangnya ditambah waktu dan kesibukan-kesibukan yang begitu menumpuk di kampus.
Namun akhirnya sesuai janji, lanjutan daripada jurnal backpacking ke bali dan lombok tetap akan gw terbitkan meskipun itu sudah terlihat basi :p
Oke, langsung saja, mudah2an tetap semangat dan antusias membacanya. Enjoy!

Lanjutan dari : Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (Bali Series)
World Cup On The Water Setelah mencari-cari taksi, akhirnya kita mendapatkan taksi dan tawar boleh tawar harga taksi untuk mengantar kita ke Pelabuhan Lembar adalah IDR 220.000 . Kalo dibagi 3 kira-kira 73ribuan, agak mahal sih tapi gakpapa lah soalnya sudah sore dan kita harus menuju ke Lombok hari itu juga sedangkan angkutan yg menuj langsung ke Pelabuha Lembar dari Kuta tidak ada. Gak pake basa-basi ransel k…

Mati Rasa

Senyuman itu, pola pipi yang menariknya, bibir indah lembut memukau.
dahi yang bersih, membiarkan cahaya matahari bebas memantul
Sepasang bola mata yang biasa, khas Indonesia.
tidak terlalu semampai, tidak.
bersayap pun tidak...apalagi

Wajahmu, aku mati rasa...

Angin Teman Sejati

Begitu banyak kesempatan telah berlalu, Sebut saja di atap loteng di malam itu, hanya berteman angin, aku menengadah menikmati langit bertabur bintang... Atau mungkin didalam kereta menuju Yogyakarta, lagi-lagi berteman angin, aku melayangkan pandangan keluar jendela, menikmati mentari tenggelam dibatas cakrawala... Atau mungkin saja di puncak gunung Gede kala itu, Mentari baru saja terbit menyapa saat aku terbangun dari tidurku yang lelap dan dingin diselimuti angin... Hmmm... Atau ketika KM Awu berlayar meninggalkan pelabuhan kota Bima, angin yang kencang memaksaku menarik jaket untuk keluar menikmati kontur pulau Sumbawa yg sangat sangat alami... Atau mungkin saja saat senja semakin merona dan kalong-kalong mulai berterbangan mencari makan di pulau Kalong, masih berteman angin, aku menikmatinya sambil meneguk segelas sopi di anjungan perahu.. Bahkan malamnya saat Tuhan menganugerahkan jutaan bintang di jagad langit sehingga seakan Flores memiliki Planetarium baru, aku hanya bernyanyi menghibur …