Selasa, 22 Februari 2011

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Baiklah teman-teman pembaca yang budiman, pertama-tama izinkan saya meminta maaf atas keterlambatan penerbitan jurnal lanjutan gw kali ini. Mungkin kalo diizinkan beralasan, ini semua karena mood yang angin-anginan datangnya ditambah waktu dan kesibukan-kesibukan yang begitu menumpuk di kampus.
Namun akhirnya sesuai janji, lanjutan daripada jurnal backpacking ke bali dan lombok tetap akan gw terbitkan meskipun itu sudah terlihat basi :p
Oke, langsung saja, mudah2an tetap semangat dan antusias membacanya. Enjoy!

Lanjutan dari : Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (Bali Series)
World Cup On The Water
Setelah mencari-cari taksi, akhirnya kita mendapatkan taksi dan tawar boleh tawar harga taksi untuk mengantar kita ke Pelabuhan Lembar adalah IDR 220.000 . Kalo dibagi 3 kira-kira 73ribuan, agak mahal sih tapi gakpapa lah soalnya sudah sore dan kita harus menuju ke Lombok hari itu juga sedangkan angkutan yg menuj langsung ke Pelabuha Lembar dari Kuta tidak ada. Gak pake basa-basi ransel kita masukin ke bagasi dan mobil langsung melaju kencang...

Tukang Curhat!
Di jalan, kami bertiga ngobrol dengan supir taksinya yang bernama Nyoman. Sepanjang jalan sambil melepas lelah kami saling berbincang tentang kehidupan di Bali dulu dan sekarang. Pak Nyoman sudah nyupir taksi sekitar 15 tahun, dan dia merasa sudah cukup dengan pekerjaannya itu. Dia bercerita bagaimana sampai kahirnya dia bisa memiliki sendiri taksi yang ia kendarai sekarang karena loyalitasnya terhadap perusahaan dan kerajinan Pak Nyoman untuk mengangsur mobil taksi tersebut. Dia juga bercerita tentang keadaan ekonomi di Bali sebelum dan sesudah tragedi bom waktu itu. Tampaknya Pak Nyoman ini memang sudah terlatih sekali untuk berbicara kepada pelanggan. Ceritanya terus berlanjut sampai ke penjaja-penjaja seks di Bali yang rata-rata favoritnya orang-orang bule. Dia bilang, penjaja seks itu bukan wanita-wanita asli Bali melainkan pendatang dari luar pulau. Kalo orang Bali asli pasti sudah takut sama aturan agamanya. Lantas dia lanjut bercerita lagi tentang 8 pura penjaga yang ada di setiap ujung-ujung arah mata angin pulau Bali, salah satunya pura Uluwatu dan Tanah Lot. Pokonya banyak sekali yang dia ceritakan, sampai tidak terasa hari sudah mulai gelap.
Selama perjalanan gw gak ngeliat ada kendaraan umum yang menuju Pelabuhan Padang Bai, maka keputusan kita untuk naik taksi kiranya cukup bijak kali ini.
Pukul 18.08 tepat kita sampai di Pelabuhan Padang Bai Bali. Setelah berpisah dengan Pak Nyoman si tukang curhat, kita langsung berjalan mengurusi administrasi untuk nyebrang ke Pulau Lombok. Sangat disayangkan bahwa kondisi Pelabuhan sangat buruk menurut gw. Kotor dan banyak gelandangan yang tidur di lantai dalam pelabuhan. 
Tiket untuk nyebrang dari Pelabuhan Pdang Bai ke Pelabuhan Lembar Lombok lebih mahal dari Pel. Ketapang ke Gilimanuk, bisa sampai 5 kali lipat. Kita bayar IDR 31.000 untuk satu orang.
Sampai di kapal pun kedaan belum begitu baik benar. Kita bakalan duduk saja di kapal ferry selama kurang lebih 5-6 jam. Kalo mau tiduran, ada penyewaan kasur seharga 3000 per kasurnya. Gw sih males, mending tidur di kursi aja sambil nungguin dan nonton pertandingan World Cup Belanda vs Brazil kalo gak salah.

Senin, 14 Februari 2011

Mati Rasa

Senyuman itu, pola pipi yang menariknya, bibir indah lembut memukau.
dahi yang bersih, membiarkan cahaya matahari bebas memantul
Sepasang bola mata yang biasa, khas Indonesia.
tidak terlalu semampai, tidak.
bersayap pun tidak...apalagi

Wajahmu, aku mati rasa...

Rabu, 09 Februari 2011

Angin Teman Sejati

Begitu banyak kesempatan telah berlalu,
Sebut saja di atap loteng di malam itu,
hanya berteman angin, aku menengadah menikmati langit bertabur bintang...
Atau mungkin didalam kereta menuju Yogyakarta,
lagi-lagi berteman angin, aku melayangkan pandangan keluar jendela, menikmati mentari tenggelam dibatas cakrawala...
Atau mungkin saja di puncak gunung Gede kala itu,
Mentari baru saja terbit menyapa saat aku terbangun dari tidurku yang lelap dan dingin diselimuti angin...
Hmmm...
Atau ketika KM Awu berlayar meninggalkan pelabuhan kota Bima,
angin yang kencang memaksaku menarik jaket untuk keluar menikmati kontur pulau Sumbawa yg sangat sangat alami...
Atau mungkin saja saat senja semakin merona dan kalong-kalong mulai berterbangan mencari makan di pulau Kalong,
masih berteman angin, aku menikmatinya sambil meneguk segelas sopi di anjungan perahu..
Bahkan malamnya saat Tuhan menganugerahkan jutaan bintang di jagad langit sehingga seakan Flores memiliki Planetarium baru,
aku hanya bernyanyi menghibur diri disela ucapan syukur...

Kesempatan-kesempatan indah itu berlalu begitu saja
sampai aku tersadar bahwa ada yang kurang,
kamu tidak pernah ada disini. Bahkan sejengkal pun...
Sungguh angin teman sejati