Senin, 26 Agustus 2013

Meracau

Izinkan diriku sedikit meracau. Sejenak... Hanya sejenak...
Ini tidak ada hubungannya dengan umur ataupun kedewasaan. Mengerti?
Baiklah, aku mulai...

Rasa-rasanya ini adalah titik terendahku dalam 5 tahun terakhir, atau mungkin dalam 10 tahun terakhir.

Boleh dikatakan kalau aku dibesarkan oleh rasa sabar. Bagiku, menunggu seperti bernafas. Sudah biasa. Namun, akhir-akhir ini agaknya aku sesak nafas dan hampir lewat. Rasanya semua yang sudah aku bangun di atas bantal akan runtuh seketika. Mimpi dan khayalan itu, mereka semakin menggila dan semakin menjadi. Namun, dalam waktu yang bersamaan, juga semakin menyakitkan.

Padahal aku sedang di ujung tanduk studiku. Di ujung jembatan mimpiku. Dalam kondisi kritis ini, salah langkah sedikit bisa jatuh berguling-guling. Aku tidak mau!

Tekanan dan kekhawatiran menerjang dari berbagai penjuru. Aku tidak bisa bergerak, terperangkap hipotesa dan spekulasiku sendiri.

Semuanya bagaikan rayap yang menggerogoti kusen jendela rumah.

Saat ini, masa depan terkesan buram, malah cenderung menyeramkan. Mereka yang pernah ada, kini tampil seakan mengejek dan menyindir kualitas kebahagiaanku. Mereka tepat waktu dan tepat sasaran. Saat ini, aku kena telak.

Semakin aku mencari tahu, semakin aku membunuh diriku. Masalahnya hidupku adalah mencari tahu. Aku tak bisa hidup tanpa itu, setidaknya untuk saat ini. Dengan begitu, aku hidup dan mati bersamaan.

Penantian yang tak kunjung berakhir, kesempatan yang tak kunjung tercipta, jarak yang tak kunjung bersahabat, nyali yang tak kunjung genap, serta waktu yang kian berlalu.

Sebuah keputusan harus diambil!

Semoga Tuhan mendengar dan mengerti semua ini. Ampuni daku jikalau meragukan-Mu.

***

Mungkin ini tulisan paling tidak bermartabat sepanjang sejarah blog ini tercipta. 
Mungkin juga setelah terciptanya tulisan ini, semua bisa berubah.

Jam berapa ini? Perutku harus diisi...

Selasa, 20 Agustus 2013

Tentang Menggapai Puncak Anjani



Beberapa minggu yang lalu gw dan teman-teman sekampus melakukan pendakian ke Gunung Rinjani di Pulau Lombok sana. Kali ini gw tidak menceritakannya seperti biasa di blog ini, namun gw membuat semacam e-book yang (harapannya) lebih menarik dan lebih bagus lagi penampilannya.

Ini sebenarnya terinspirasi dari beberapa orang yang juga mencatatkan kisah perjalanannya dengan cara seperti ini. Sebut saja Mas Nuran Wibisono dan Mbak Maharsi. Mereka terlihat profesional sekali dalam membuat sebuah catatan perjalanan. Intinya : gw suka.

Berangkat dari situ, gw mencoba untuk membuat tulisan gw sendiri. Gw memang tidak punya kualifikasi sebagai penulis dan sebagainya. Tapi selama menulis itu belum dilarang, semua orang bisa saja menulis. Masalah kualitas bagus atau tidaknya, itu relatif. Masalah format penulisan, itu juga tergantung situasi dan kondisi. Kalau hanya untuk konsumsi pribadi seperti di blog seperti ini kan bebas saja... Iya kan? huehehe...

Nah, ini adalah oleh-oleh dari perjalanan pendakian Gunung Rinjani kemarin. Silahkan di-download, di-share serta dibaca sepuasnya. Semoga bermanfaat!

Menggapai Puncak Anjani