Senin, 02 September 2013

"Tanjakan Cinta"


Ini yang kedua kalinya.
Dengan alas kaki yang sama, dengan semangat yang sama, dengan doa yang sama.
Akankah Tuhan memberikan jawabannya?
Akankah aku mengerti?

Senin, 26 Agustus 2013

Meracau

Izinkan diriku sedikit meracau. Sejenak... Hanya sejenak...
Ini tidak ada hubungannya dengan umur ataupun kedewasaan. Mengerti?
Baiklah, aku mulai...

Rasa-rasanya ini adalah titik terendahku dalam 5 tahun terakhir, atau mungkin dalam 10 tahun terakhir.

Boleh dikatakan kalau aku dibesarkan oleh rasa sabar. Bagiku, menunggu seperti bernafas. Sudah biasa. Namun, akhir-akhir ini agaknya aku sesak nafas dan hampir lewat. Rasanya semua yang sudah aku bangun di atas bantal akan runtuh seketika. Mimpi dan khayalan itu, mereka semakin menggila dan semakin menjadi. Namun, dalam waktu yang bersamaan, juga semakin menyakitkan.

Padahal aku sedang di ujung tanduk studiku. Di ujung jembatan mimpiku. Dalam kondisi kritis ini, salah langkah sedikit bisa jatuh berguling-guling. Aku tidak mau!

Tekanan dan kekhawatiran menerjang dari berbagai penjuru. Aku tidak bisa bergerak, terperangkap hipotesa dan spekulasiku sendiri.

Semuanya bagaikan rayap yang menggerogoti kusen jendela rumah.

Saat ini, masa depan terkesan buram, malah cenderung menyeramkan. Mereka yang pernah ada, kini tampil seakan mengejek dan menyindir kualitas kebahagiaanku. Mereka tepat waktu dan tepat sasaran. Saat ini, aku kena telak.

Semakin aku mencari tahu, semakin aku membunuh diriku. Masalahnya hidupku adalah mencari tahu. Aku tak bisa hidup tanpa itu, setidaknya untuk saat ini. Dengan begitu, aku hidup dan mati bersamaan.

Penantian yang tak kunjung berakhir, kesempatan yang tak kunjung tercipta, jarak yang tak kunjung bersahabat, nyali yang tak kunjung genap, serta waktu yang kian berlalu.

Sebuah keputusan harus diambil!

Semoga Tuhan mendengar dan mengerti semua ini. Ampuni daku jikalau meragukan-Mu.

***

Mungkin ini tulisan paling tidak bermartabat sepanjang sejarah blog ini tercipta. 
Mungkin juga setelah terciptanya tulisan ini, semua bisa berubah.

Jam berapa ini? Perutku harus diisi...

Selasa, 20 Agustus 2013

Tentang Menggapai Puncak Anjani



Beberapa minggu yang lalu gw dan teman-teman sekampus melakukan pendakian ke Gunung Rinjani di Pulau Lombok sana. Kali ini gw tidak menceritakannya seperti biasa di blog ini, namun gw membuat semacam e-book yang (harapannya) lebih menarik dan lebih bagus lagi penampilannya.

Ini sebenarnya terinspirasi dari beberapa orang yang juga mencatatkan kisah perjalanannya dengan cara seperti ini. Sebut saja Mas Nuran Wibisono dan Mbak Maharsi. Mereka terlihat profesional sekali dalam membuat sebuah catatan perjalanan. Intinya : gw suka.

Berangkat dari situ, gw mencoba untuk membuat tulisan gw sendiri. Gw memang tidak punya kualifikasi sebagai penulis dan sebagainya. Tapi selama menulis itu belum dilarang, semua orang bisa saja menulis. Masalah kualitas bagus atau tidaknya, itu relatif. Masalah format penulisan, itu juga tergantung situasi dan kondisi. Kalau hanya untuk konsumsi pribadi seperti di blog seperti ini kan bebas saja... Iya kan? huehehe...

Nah, ini adalah oleh-oleh dari perjalanan pendakian Gunung Rinjani kemarin. Silahkan di-download, di-share serta dibaca sepuasnya. Semoga bermanfaat!

Menggapai Puncak Anjani


Selasa, 30 Juli 2013

Dust In The Wind


Tuhan memiliki cara tersendiri untuk memberikan petunjuk agar kita sadar akan keberadaan-Nya. Tugas kita sebagai manusia adalah membaca petunjuk-petunjuk tersebut. Bagi mereka yang mengerti, mereka akan menemukan-Nya di manapun, dan kapanpun.

Aku menemukannya di sini.
Di hadapan angkasa dan gunung-gunung yang berukir.
Di ujung telunjuk bumi, yang menunjuk ke arah langit.
Di tengah samudera, yang tak terhingga.

Betapa kecilnya kita di antara semua ini. Bagaikan debu di antara angin.

Pendakian gunung seharusnya merendahkan hati. Bukan sebaliknya.


Senin, 24 Juni 2013

Siapa Sangka?


Seseorang pernah bilang kalau  jodoh itu adalah kesempatan bertemu dengan kesiapanBisa jadi!

Bayangkan saja, sudah 22 tahun lebih tinggal di Indonesia dan sudah hampir 4 tahun kuliah di Yogyakarta, selama itu gw belum juga sempat menggapai puncak gunung Merapi. Padahal kalau lagi musim cerah, setiap pagi Gunung Merapi terlihat 'kekar' dengan urat-urat aliran laharnya disinari sinar mentari terlihat dari kampus gw.

Kesempatan pertama gw untuk mendaki Gunung Merapi itu sekitar 4 tahun lalu. Waktu itu selepas pengumuman kelulusan, gw sama teman-teman SMA berangkat dari Bogor naik kereta ke arah Solo untuk bermalam di rumah pamannya temang gw sebelum besoknya mendaki Gunung Merapi. Sayangnya kondisi badan gw kurang fit saat itu, tapi gw tetap nekat berangkat. Alhasil, kondisi badan gw semakin buruk karena bejubel di dalam gerbong kereta ekonomi selama hampir 14 jam lebih. Badan lemes, kepala pusing, masuk angin, ditambah tidur posisinya gak jelas. Masih inget banget gw waktu itu sempat di-kerokin sama nenek-nenek di dalam kereta yang kasian ngeliatin gw udah muntah beberapa kali. Seru dan agak gila juga suasana waktu itu. 

Sesampainya di Solo, gw langsung tepar dan dirawat beberapa hari di rumah pamannya teman gw itu. Sementara teman-teman gw yang lain melanjutkan perjalanannya mendaki Gunung Merapi dan pulang dengan selamat membawa banyak cerita. Sedihnya...

Minggu, 23 Juni 2013

Dahlia, Endomondo dan Kenaikan Harga BBM


Perjumpaan pertama gw dengan Dahlia kira-kira sekitar 6 bulan yang lalu. Waktu itu gw sengaja pulang ke Bogor karena ada sepupu gw yang jauh-jauh datang dari Medan udah lama gak ketemu. Waktu itu juga gw sekalian mau ngurusin KTP yang sudah habis masa berlakunya.

Setelah 2 hari berada di rumah, gw baru menyadari keberadaan sepeda lipat berwarna merah ini teronggok di garasi. Sudah dari semester awal kuliah gw memimpikan untuk punya sepeda lipat yang flexible dan bisa dibawa kemana-mana. Namun apa daya tabungan tiap semester selalu terkuras buat mengobati penat dengan jalan-jalan. Sampai akhirnya gw melihat 'si merah' ini dan langsung jatuh cinta pengen langsung gw pinang dan gw angkut ke Jogja.

Setelah having a conversation sama Ibu dan Papah, akhirnya gw pasang muka memelas dan minta ijin untuk bawa ini sepeda ke Jogja. Sepeda itu biasa dibuat papah olahraga dan ke warung katanya, tapi gak sering-sering amat. Awalnya mereka gak ngebolehin. Tapi pas hari H saat dimana gw akan bertolak kembali ke Jogja, tiba-tiba itu sepeda udah dilipet rapih plus dibungkus pake kardus sama papah buat gw bawa ke Jogja. Waaah....betapa senangnya...

Rabu, 22 Mei 2013

Journey To The East (Cerita Perjalanan Backpacking Flores) - 4 Habis


Akhirnya... Setelah sekian lama nge-dokem di draft, akhirnya postingan ini bisa di-publish juga. Lunas sudah hutang piutang kita. 
Semoga masih tetap antusias mengikuti ceritanya. Selamat mengikuti! :)

Sambungan dari :


Rabu, 2 Februari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Leyeh –leyeh Day
Kira-kira jam 8 pagi kita sudah packing barang-barang dan bersiap untuk pindah tempat penginapan. Belakangan gw denger kabar kenapa si pemilik penginapan gak mau nerima orang asing untuk bermalam di tempat mereka. Masalah agama dan tingkah laku orang asing yg kadang-kadang bawa-bawa adat kebarat-baratannya ke sini, contohnya making love di penginapan dsb. Yah gak akan gw bahas panjang lebar lah masalah itu. Pokoknya setelah menyelesaikan administrasi di penginapan sebelumnya, kita langsung pindah ke penginapan selanjutnya yg mengijinkan orang asing untuk menginap. Jaraknya gak jauh dari penginapan pertama. Penginapan ini rekomendasi dari kenalan Luca saat bertemu di Bali. Harganya sesuai dengan yg kita mau lah, IDR 25000 per orang per malam, tapi jangan berharap tinggi-tinggi, yg pasti bisa buat istirahat dan bersih-bersih.

Makan di warung Jawa dekat penginapan
Hari ini rencananya adalah hari leyeh-leyeh sedunia. Kita sisain 1 hari penuh buat istirahatin badan, apalagi habis menempuh 18 jam perjalanan darat yg cukup melelahkan antara Ende – Labuan Bajo. Aktivitas seharian diisi dengan tidur-tiduran, makan dan jalan-jalan menyusuri sepanjang jalan Labuan Bajo. Selain itu, kita juga mulai merencanakan apa yg akan kita lakukan besok harinya. Rencananya kita akan ambil paket wisata Taman Nasional Komodo yang disediakan oleh bermacam-macam travel agent di sepanjang jalan Labuan Bajo. Sore itu kita habiskan untuk menyusuri sepanjang jalan Labuan Bajo untuk survey paket wisata. Jujur kita masih belum ada gambaran kegiatan apa aja yg bisa dinikmati dan tempat2 apa saja yg bisa dikunjungi di kawasan Taman Nasional Komodo itu. Setelah survey ke beberapa travel agen, barulah kita mulai ada gambaran rute-rute, tempat-tempat dan kegiatan apa saja yg bisa dilakukan disana. Ada yg bisa dilakukan 1 hari (one day trip), ada yg 2 hari 1 malam, dan lain-lain. Rata-rata harganya sama dari setiap agen. Akhirnya kita tertarik dengan tawaran salah satu agen disana, mereka bilang butuh 10 orang dalam 1 perahu, sedangkan kami ber-tujuh. Ada 2 orang lain yg sedang mengantri juga. Tinggal cari 1 orang penumpang lagi agar biaya paket semakin murah. Orang yang ditunggu tak kunjung datang, kita belum menyetujui paket ini dan minta kepada si pemilik agen untuk mengabari apabila sudah genap 10 orang. Kami pun berjalan pulang ke penginapan...

Sabtu, 05 Januari 2013

Self Monologue


“Menurut gw sih, umur segini udah bukan fasenya lagi nyari ‘pacar’, bung! Udah saatnya berpikir matang supaya dikemudian hari tidak menyesal. This is for the rest of my life. I’m talking about ‘partner of life’, bung! Jadi bukan main-main lagi, harus dipikir matang-matang...”

“Pake audisi gitu ya? Kayak Amer*can Idol gitu?”

“Yaaah..kurang lebih begitu lah...hahaha... Ya enggaklah! Ya lu seleksi sendiri dari berbagai kriteria. Kasarnya begitu. Misal penampilan, pendidikan, latar belakang keluarga, sifat, kebiasaan, hobi, bahkan zodiak dan shio!”

“Ya ampun sampe segitunya...”

“Gw seriusan, bung! Nanti dari beberapa kriteria itu seorang cewek pasti punya nilainya masing-masing. Nah, nanti tinggal dipilih mana yang kira-kira nilainya itu masuk passing grade yang udah lu tentuin sebelumnya. Misal lu mau istri dengan kriteria penampilan 70, pendidikan 30, hobinya berkuda, dan lain-lain kombinasinya terserah lu sendiri, tiap orang kan punya selera masing-masing”

“Kalo gw pengennya yang semuanya nilai nya 100 gimana?”

Nobody is perfect, dude

“Lagian meskipun seberapapun maunya gw, kalo ceweknya gakmau sama aja kan?”

“Bentar dulu, tahap selanjutnya namanya USAHA. Tadi mah baru tahap milih yg mau diusahain.”

“Ribet banget lu!"

 “Ya kan orang punya selera, bung!”