Siapa Sangka?


Seseorang pernah bilang kalau  jodoh itu adalah kesempatan bertemu dengan kesiapanBisa jadi!

Bayangkan saja, sudah 22 tahun lebih tinggal di Indonesia dan sudah hampir 4 tahun kuliah di Yogyakarta, selama itu gw belum juga sempat menggapai puncak gunung Merapi. Padahal kalau lagi musim cerah, setiap pagi Gunung Merapi terlihat 'kekar' dengan urat-urat aliran laharnya disinari sinar mentari terlihat dari kampus gw.

Kesempatan pertama gw untuk mendaki Gunung Merapi itu sekitar 4 tahun lalu. Waktu itu selepas pengumuman kelulusan, gw sama teman-teman SMA berangkat dari Bogor naik kereta ke arah Solo untuk bermalam di rumah pamannya temang gw sebelum besoknya mendaki Gunung Merapi. Sayangnya kondisi badan gw kurang fit saat itu, tapi gw tetap nekat berangkat. Alhasil, kondisi badan gw semakin buruk karena bejubel di dalam gerbong kereta ekonomi selama hampir 14 jam lebih. Badan lemes, kepala pusing, masuk angin, ditambah tidur posisinya gak jelas. Masih inget banget gw waktu itu sempat di-kerokin sama nenek-nenek di dalam kereta yang kasian ngeliatin gw udah muntah beberapa kali. Seru dan agak gila juga suasana waktu itu. 

Sesampainya di Solo, gw langsung tepar dan dirawat beberapa hari di rumah pamannya teman gw itu. Sementara teman-teman gw yang lain melanjutkan perjalanannya mendaki Gunung Merapi dan pulang dengan selamat membawa banyak cerita. Sedihnya...


Kesiapan gw yang tidak optimal waktu itu membuat kesempatan yang telah datang, berlalu begitu saja. "Belum jodoh...", di dalam hati gw bergumam.

Kuliah di Jogja, seharusnya membuat kesempatan gw untuk mendaki Gunung Merapi menjadi lebih banyak. Tapi ternyata tidak juga. Gw malah mendaki gunung yang lain, seperti Merbabu, Sindoro, dan Lawu. Merapi? Entah mengapa tidak pernah berhasrat untuk mendakinya semenjak kejadian 4 tahun lalu, ditambah lagi tahun 2010 Merapi sempat erupsi dan membuat kegiatan pendakian terhenti selama beberapa waktu. Setelah itu, gw gak pernah dapet ajakan naik gunung ke Merapi ataupun berkeinginan untuk mendakinya. Padahal kondisi fisik dan mental baik -baik saja. Mungkin kesempatannya yang belum datang. Jadi inget gimana susahnya nyari waktu buat naik gunung di tengah-tengah deadline tugas yang sambung menyambung dan datang bertubi-tubi. 

Sampai akhirnya, di saat masa-masa itu terlewati dan tiada apapun selain "skripsi", kesempatan itu datang. Kira-kira awal bulan yang lalu gw dan 3 orang teman kampus gw mendaki Gunung Merapi. Meskipun cuaca pada waktu itu lagi tidak menentu (cenderung sering hujan), kita tetap berangkat. Alhamdulillah pendakian selamat sampai tujuan dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Malah Tuhan memberi kita kesempatan untuk menikmati romantisnya matahari yang tenggelam ke dalam lautan awan. Bahkan keesokan paginya kita juga diberi kesempatan untuk menikmati indahnya sinar mentari terbit. Ini baru namanya jodoh... Siapa sangka?

4 tahun tinggal di Jogja, baru sebulan kemarin mendaki Gunung Merapi. Siapa sangka?
Selama pendakian cuaca relatif cerah, padahal di Jogja hujan deras setiap hari. Siapa sangka?
Bertemu dengan salah satu pengusaha perlengkapan outdoor sukses dan berbagi cerita di puncak Merapi. Siapa sangka?

Menikah dengan sang pujaan hati yang sudah lama tidak tampak batang hidungnya selama bertahun-tahun. Siapa sangka???


Bertukar cerita di puncak Gunung Merapi


Matahari terbenam yang romantis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phunsukh Wangdu

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Another Cheesy Thing