Senin, 24 Juni 2013

Siapa Sangka?


Seseorang pernah bilang kalau  jodoh itu adalah kesempatan bertemu dengan kesiapanBisa jadi!

Bayangkan saja, sudah 22 tahun lebih tinggal di Indonesia dan sudah hampir 4 tahun kuliah di Yogyakarta, selama itu gw belum juga sempat menggapai puncak gunung Merapi. Padahal kalau lagi musim cerah, setiap pagi Gunung Merapi terlihat 'kekar' dengan urat-urat aliran laharnya disinari sinar mentari terlihat dari kampus gw.

Kesempatan pertama gw untuk mendaki Gunung Merapi itu sekitar 4 tahun lalu. Waktu itu selepas pengumuman kelulusan, gw sama teman-teman SMA berangkat dari Bogor naik kereta ke arah Solo untuk bermalam di rumah pamannya temang gw sebelum besoknya mendaki Gunung Merapi. Sayangnya kondisi badan gw kurang fit saat itu, tapi gw tetap nekat berangkat. Alhasil, kondisi badan gw semakin buruk karena bejubel di dalam gerbong kereta ekonomi selama hampir 14 jam lebih. Badan lemes, kepala pusing, masuk angin, ditambah tidur posisinya gak jelas. Masih inget banget gw waktu itu sempat di-kerokin sama nenek-nenek di dalam kereta yang kasian ngeliatin gw udah muntah beberapa kali. Seru dan agak gila juga suasana waktu itu. 

Sesampainya di Solo, gw langsung tepar dan dirawat beberapa hari di rumah pamannya teman gw itu. Sementara teman-teman gw yang lain melanjutkan perjalanannya mendaki Gunung Merapi dan pulang dengan selamat membawa banyak cerita. Sedihnya...

Minggu, 23 Juni 2013

Dahlia, Endomondo dan Kenaikan Harga BBM


Perjumpaan pertama gw dengan Dahlia kira-kira sekitar 6 bulan yang lalu. Waktu itu gw sengaja pulang ke Bogor karena ada sepupu gw yang jauh-jauh datang dari Medan udah lama gak ketemu. Waktu itu juga gw sekalian mau ngurusin KTP yang sudah habis masa berlakunya.

Setelah 2 hari berada di rumah, gw baru menyadari keberadaan sepeda lipat berwarna merah ini teronggok di garasi. Sudah dari semester awal kuliah gw memimpikan untuk punya sepeda lipat yang flexible dan bisa dibawa kemana-mana. Namun apa daya tabungan tiap semester selalu terkuras buat mengobati penat dengan jalan-jalan. Sampai akhirnya gw melihat 'si merah' ini dan langsung jatuh cinta pengen langsung gw pinang dan gw angkut ke Jogja.

Setelah having a conversation sama Ibu dan Papah, akhirnya gw pasang muka memelas dan minta ijin untuk bawa ini sepeda ke Jogja. Sepeda itu biasa dibuat papah olahraga dan ke warung katanya, tapi gak sering-sering amat. Awalnya mereka gak ngebolehin. Tapi pas hari H saat dimana gw akan bertolak kembali ke Jogja, tiba-tiba itu sepeda udah dilipet rapih plus dibungkus pake kardus sama papah buat gw bawa ke Jogja. Waaah....betapa senangnya...