Senin, 20 Juni 2011

Journey to The East (Cerita Perjalanan Backpacking Flores) - 2

sambungan dari : 
Journey To The East (part 1)
Journey To The East (part 3)


Kamis, 27 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Nasi Bantal
Jam 06.30 kami udah bangun dan langsung denger pengumuman untuk penukaran tikket dengan sarapan pagi sudah bisa dilakukan dengan menghubungi ABK di pantry. Segera kami beranjak kesana karena perut sudah lapar. Setelah menukarkan tiket da mendapatka 1 kotak + 1 minum gelasan per orangnya, kami langsung kembali ke lapak kami. Yang ngambil makanan biasanya cuma 2 orang aja, waktu itu Gw dan Kicol, kadang-kadang masih ada yang tidur jadi kalo gak diambil buru-buru nanti penukaran tiketnya ditutup. Ternyata si Ucup ibarat perokok, dia itu penidur berat. Tiket-tiket Mbak Selly, Elis dan Oma pun sekalian Gw dan Kicol yang ambilin biar gak repot.
Kami memang tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi dengan makanan di dalam kotak itu. Yah, namanya juga gratisan. Ternyata isinya sarapan pagi kami kala itu adalah nasi dengan potongan (tampaknya) telur dadar 1/4 bagian dilumuri kuah sarden. Benar saja dugaan kami, setidaknya selera makan tidak turun. Karena sudah lapar memang, kami langsung sarapan bersama. Oh, ternyata tak disangka tak dinyana potongan telur tadi sepertinya tidak sepenuhnya telur. Mungkin hanya 1/2 bagiannya yang telur, atau 1/4 bagiannya yang telur, atau malahan 1/1000nya yang telur, sisanya tepung terigu!!! Philip udah mulai agak malas-malasan makannya, apalagi si Fuad yang terus-menerus merengek tentang gizi. "eh atuh eh.."


2 menu setia di kapal Awu : Nasi ikan & Nasi Bantal
Ya mau bagaimana lagi, beginilah kondisi di kapal ini dan beberapa hari berikutnya di kapal, ketimbang beli nasi Ayam + sayur yang mahal itu, uang kita sudah habis duluan. Untung saja kami bawa perbekalan penunjang yang lain seperti sozzis dan abon, meskipun jumlahnya juga terbatas. Jangankan kami yang jarang naik kapal, mbak Selly pun bilang, "Nah, gini lebih enak kalo pakai abon, daripada hanya nasi sama bantal...". Dan semua pun tertawa terbahak-bahak.

Kutilang Rinjani

Aku ragu mulai darimana...
Hidungnya 45 derajat seakurat penggaris siku-siku
Bibir bawahnya lembut melengkung anggun tiada tara
Sebaris gigi seri sempurna mengintip malu-malu kucing
Dagunya bertumpu indah di telapak tangan
Pupilnya bergerak sopan senada dengan pakaiannya
Mahkotanya menari indah, bagaimanapun arah putaran bumi
Lehernya seputih susu, setinggi menara Pisa
Singkatnya...Sherina Munaf edisi ramping!

*Syair ini ter-ceplos begitu saja saat melihat bidadari yang membuat lupa diri...

 

Minggu, 12 Juni 2011

Menyadari Keadilan

Seorang pemuda terpojok, jantungnya terpompa sampai ke lantai sembilan gedung sekolah. Matanya berkedip sembilan ratus kali dan masih tidak percaya.
Kabar kurang manis datang dari tanah asalnya. Untungnya bukan undangan kawinan yang berisi gambar kurang sopan lengkap dengan cemo'ohan orang beradab.

Kain merah muda menciut mencumbu lembut bagian putihnya. Lebih dekat dari ukuran jari kelingking bayi yang baru lahir. Lebih ramping agak sepundak melempar senyum seperti biasa. Senyuman setajam pisau dapur menyobek tipis lapisan hati. Tidak lebih dari 3 gambar sudah membuatnya hampir mati kehabisan darah.

Rembulan pergi dicuri malam. Tinggalah angin dan hujan beserta jangkrik-jangkrik mengetuk dalam hatinya. Sedalam-dalamnya 7 lapisan bumi. Hanya untuk memberi tahu bahwa masih banyak bintang berkilau bak intan kelak akan datang. Hanya jika kelopak mata hatinya mampu terbuka lebih lebar dan kedua kakinya lebih kuat untuk berlari mengejar lukisan-lukisan buatannya sendiri.

Sebegitu menginginkannya dia akan keadilan sampai dia tidak menyadari arti keadilan itu sendiri.