Sabtu, 17 Juni 2017

Sarjana Barcelona

Penat dan letih
lalu kecemasan
Dicemburui lelap
atau vakansi singkat

Kantung mata sementara
Sepi ini juga
Tak apa untung ada mereka
dan juga bunga-bunga

Semua hal adalah sementara

Kemudian hari ini
Semua perasaan saling berbagi
berpelukan
juga bergandengan

Oh ini rasanya
Akhirnya selesai juga
Biar kurayakan bersama papa mama
jalan - jalan ke Barcelona



Senin, 23 Januari 2017

Another Cheesy Thing

Do you ever feel happy?

You smile, then you laugh. You laugh more, then suddenly tears coming down your cheeks.

I cannot explain how it feels. But, its kinda storm, or like some astronomical things crashing each other. Its like skydiving without parachute. You blend it all... excited, worries, guilty, disappointed, happy, just blend it all...

You see that happy faces... you feel their smile. You laugh their jokes. You kinda be around them. And you feel happy.

In the same time. Precisely the same time, you lose it. You have just fuckin lose it. Totally lose it. You are far far away behind Saturn. Like thousand lightyears, million, billion goddamnit..

Happiness is bullshit. You feel it but it's bullshit. You are just fucked up. Fucked up for more than 7 years goddamnit.

You are lost in Gargantua. Your time dimension has been stretching while you still consider she's the one and only, proper and pretty, to be the queen of anything in your simple house, near your parent's house in the middle of the city.

Shit. I should sleep. They say sleep cure anything. But im not in medical treatment or therapy.

I should log out the social media goddamnit.

Kamis, 08 Desember 2016

Persimpangan

Mungkin, lebih baik tidak ada pilihan sama sekali daripada memiliki banyak pilihan, tapi tidak tahu mau memilih yang mana.

Hidup ini penuh pertanyaan. Lalu kita dipaksa membuat jawaban-jawaban. Sementara waktu terus berjalan.

Jadi maksudnya apa?

Semesta itu pikiran dan hawa nafsu. Luas sempitnya tergantung itu. Lalu hidup ini bukan untuk dipertanyakan, melainkan untuk dijalani, dan dihadapi.

Sampai disini, sudah mengerti?

Minggu, 10 April 2016

Situasi Saat Ini...

Ini seperti... hmmm... situasi dimana kamu akhirnya menemukan apa yg selama ini kamu cari. Setelah selama ini kamu menjelajah dan memilah milih, akhirnya kamu berhenti padanya. Namun ia ada di seberang sana dan belum dapat kau genggam. Kalian dipisahkan oleh jurang yang entah berapa jauh jaraknya. Pikirmu saat ini, dialah yg selama ini kamu cari saat pertama kali kamu melihatnya. Meskipun belum sekalipun kamu menyentuhnya.

Untuk menyentuhnya, kamu harus melompati jurang itu dan sampai disana. Namun yg terjadi adalah kamu masih ragu apakah jarak itu bisa kamu raih dalam sekali lompatan terbaikmu atau tidak. Karena kalau tidak sampai, jurang itu dalam sekali.

Semakin hari perasaanmu meyakini kalau jarak itu semakin dekat, namun dalam waktu yang bersamaan, ketika kamu siap melompat, jarak itu kembali menjauh. Seperti fatamorgana.

Dilematis.

Kamu tidak mau pergi, karena tau betapa sulitnya selama ini menemukannya.

Pada akhirnya kamu melatih fisikmu. Mempersiapkan lompatan terbaik. Sampai atau jatuh fisikmu harus kuat untuk bangkit lagi.

Saat waktunya tiba, kita akan mengetahuinya. Apakah kamu akan melompat, atau berlari mengejar yang lainnya.

Minggu, 14 Februari 2016

Gerimis Romantis dan Alasan-alasannya

Bogor di Februari memang begini. Hujan akan datang setiap hari. Ketika dia datang, dia akan menggebu-gebu. Angin diajaknya menari. Petir juga berteriak lantang. Tiang listrik dan pohon besar mabuk kepayang.

Sejam dua jam, mulai sedikit reda. Ini favorit saya. Gerimis romantis, orang orang berkata. Dan ini biasanya akan berlangsung lama.

Ketika gerimis begini, memandang keluar jendela seperti melihat sepenggal film drama. Semua hal rasanya menjadi dramatis dan puitis. Sepasang kekasih sepayung berdua menunggu angkot, tukang parkir berjas ujan warna warni, lalu ada seekor ayam yg di bakar asli sukabumi, asapnya kemana-mana, bikin lapar.

Gerimis begini juga kadang bikin saya betah berlama-lama termenung. Mengingat masa masa indah yang telah lalu. Bersama teman-teman, atau orang-orang tersayang.

Tapi entah kali ini. Rasanya ada yg beda pada gerimis kali ini. Ada rasa cemas di dalamnya. Ada rasa takut akan kehilangan sesuatu yg belum pernah dimiliki.

Entahlah... saya hanya mau mencurahkan rasa ini saja. Semoga tidak terjadi apa-apa yg berbahaya.

--

Ngomong-ngomong, saya sudah setahun lebih gak posting sesuatu di sini. Cukup banyak yang nanyain juga. Jadi, biar saya jawab di sini sekalian ya.

Hmmm...
Sebenernya, saya cuma males. Biasanya kalau lagi mood dan ada inspirasi, saya curahkan di sini. Tapi karena facebook sekarang sudah sangat mudah, ya begitulah... silahkan mampir juga ke facebook saya...

Mungkin karena kalau di facebook bisa banyak orang yang lihat. Jadi ada tanggapan. Kalau di sini, yang nanggap sedikit, bukan tidak ada. Bayangin aja orang ngomong sendiri... kan kasian ya? Hehehe...

Udah ah... hujannya udah reda

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kamu Seperti...

Kamu seperti negeri-negeri yang ingin kujelajahi. Seperti aurora di bumi utara. Seperti gurun di Afrika. Seperti laut yang menjadi danau...atau sebaliknya.
Padahal bintang-bintang di langit Flores merindukanku. Senja di Belitong dan batu-batunya yang besar berpantun ria ingin memelukku. Bahkan orang-orang Mentawai generasi terakhir berteriak menyebut namaku.

Kamu seperti setiap tembakau yang tiada henti kuhisap. Tembakau khas Indonesia, yang digiling halus bersama cengkeh-cengkeh pilihan, di tanah-tanah yang tinggi.
Padahal paru-paruku berontak. Anak istriku berteriak. Mereka berhak atas nafas-nafasku itu.

Kamu seperti musik yang ingin kumainkan. Seperti lagu yang ingin kulantunkan. Seperti film yang ingin ku-sutradarai. Seperti buku yang ingin kutulis...dan waktu-waktu yang diperlukan bersamanya.
Padahal aku seorang insyinyur medioker, yang takluk pada standar, yang probabilitasnya agak tinggi untuk dapat menyuap nasi, atau apapun yang dibutuhkan perut ini.

Kamu seperti istri orang, yang pergi membawa sebagian hatiku, sebagian perasaanku, semenjak awal kita bertemu.
Padahal ada yang diam-diam memperhatikanku. Mencintaiku dengan khidmat. Menyeluruh, tubuh dan jiwa.

Kamu seperti buku-buku di rak toko yang ingin sekali ku baca.
Padahal masih terbungkus plastik

Kamu seperti keinginanku untuk melepas baju, lalu menceburkan diri ke lautan yang luas, dimana ribuan ikan dan warna-warni terumbu karang bersemayam. Menyelam sampai dalam, lalu mengapung di permukaan. Menengadah memandangi awan yang berarak. Melepaskan segala penat.

Kamu seperti cerita yang tiada habisnya. Diulang-ulang, klise, tapi adiktif.

Padahal aku masih punya masa depan.

Padahal waktu terus berjalan.

Manusia adalah makhluk kecil, namun memiliki keinginan yang besar.

Manusia bisa hidup, tapi juga bisa mati karena memiliki keinginan.

Manusia bisa bahagia, tapi juga bisa menderita karena memiliki keinginan.

Tapi manusia akan terus hidup karena memiliki rasa syukur.

Oh Tuhan, bantu aku memutuskan...

Selasa, 20 Mei 2014

Saat Ini dan Yang Belum Kuceritakan

Hai... apa kabar?

Sepertinya sudah lama tidak cerita di sini. Belakangan blog ini isinya cuma beberapa sajak-sajak picisan tentang cinta rombeng dan sebagainya yang mungkin sekiranya bisa dicukupkan dahulu. Karena kebanyakan memble juga tidak baik bagi kesehatan.

Anyway, setelah sekian lama gw tidak menemukan mood yang baik untuk bercerita di sini, maka saat ini izinkanlah abang bercerita kembali... B-)

Gw mau cerita dulu tentang kelulusan gw menjadi seorang sarjana teknik sipil setelah 4 tahun 4 bulan menempuh lika liku kehidupan di Yogyakarta. Kalau ditanya tentang perasaan, tentu akan gw jawab sangat senang. Mengingat apa yang telah dilalui selama di Yogyakarta sungguh suatu perjalanan hidup yang begitu berharga. Padatnya jadwal kuliah, ribuan tugas besar, sibuknya belajar ujian, sampai gw benar-benar dibuat hampir masuk ‘rumah sakit’ gara-gara Tugas Akhir alias skripsi gw yang lama kelarnya.

Rabu, 02 April 2014

Kubus Laknat


Kubus ini terbuat dari persamaan kuantum tentang waktu dan kecepatannya.
Kadang waktu bergerak cepat, lebih sering bergerak lambat. Bagaimana kita menikmatinya.
Pagi, siang dan malam rupanya tak ada beda bagi mereka
Mereka yang menganggap dirinya gerombolan singa,
padahal hanyalah sekumpulan 'munyuk' belaka.

Mereka terkapar pulas dalam naungan kipas angin yang bergerak ke kanan dan ke kiri
Sementara di luar, orang-orang sedang sibuk berdiskusi
tentang teh yang akan diseduh
tentang mangga yang mulai sering jatuh
atau tentang rindu yang masih utuh

Di kubus laknat, satu juta komentar terbuat
mulai dari hitamnya Ahmad, sampai tentang bidadari yang lewat.
Di kubus laknat, orang-orang tak bisa pergi
tertarik gravitasi, atau sekedar mencari penawar sepi.

Laskar Merah pun mulai berdatangan. Siap berperang,
melawan dedaunan yang jatuh dan ranting-ranting yang telah rapuh.
"mereka hanya pantas di neraka!"
teriak Laskar Merah sambil menyeret musuhnya ke tempat sampah.

Tidak lama kemudian Bung Nambi datang.
Menyapa sebentar, lalu menanyakan kabar tentang seseorang.
kalau tidak pemain voli, tentunya yang lain.
yang pasti seseorang...

Saat sore tiba, semuanya semakin ada
Meja pingpong digelar, lembar kartu disebar, sambil musik diputar.
tidak perlu kemana-mana.
Di sini, alam semesta tercipta

Kubus ini terbuat dari rindu,
pada bangku-bangku dan televisi yang abu-abu.
pada pengumuman seminar dan menu hidangan
pada perasaaan yang dilepaskan, tidak ditahan...

Di sini, sendiri atau dengan mereka, sakit hati akan sirna
hanyut dalam petikan dan genjrengan
luntur dalam nyanyian-nyanyian soal perasaan
hilang menjadi doa atau umpatan

Entahlah...
serindu-rindunya rinduku padanya, ia tetap milik siapa saja
semua kisahnya, candanya, dan aroma busuknya
silahkan kita nikmati saja

Sekarang aku akan pergi
pergi jauh...
jauh, sampai kalian kira tak akan kembali
sampai kalian lupa memanggilku apa nanti.

Namun sayang sekali, rupanya kalian salah mengerti
dimanapun aku berada nanti,
sebagian "pulang"-ku tertanam di sini.



Yogyakarta,  10 Januari 2014

Kamis, 20 Maret 2014

Purnama di Bulan Ketiga

Di bawah purnama di bulan ketiga
Aku bungkam
Aku mati
Aku menyerah dalam pasrah

Aku berduka tatkala mereka meraya bahagia

Di bawah purnama di bulan ketiga
Aku hancur seketika
Kupungut diriku yang berserakan tanpa rima
Kukemasi perasaanku
Lalu menghilang...

Yang tertanam, biarlah tetap tertanam
tanpa harus ada yg menuai

Perasaan ini biar kupelihara sendiri
sampai nanti, bulan dan musim berganti...

Bogor, 16 Maret 2014