Sabtu, 16 Agustus 2014

Kamu Seperti...

Kamu seperti negeri-negeri yang ingin kujelajahi. Seperti aurora di bumi utara. Seperti gurun di Afrika. Seperti laut yang menjadi danau...atau sebaliknya.
Padahal bintang-bintang di langit Flores merindukanku. Senja di Belitong dan batu-batunya yang besar berpantun ria ingin memelukku. Bahkan orang-orang Mentawai generasi terakhir berteriak menyebut namaku.

Kamu seperti setiap tembakau yang tiada henti kuhisap. Tembakau khas Indonesia, yang digiling halus bersama cengkeh-cengkeh pilihan, di tanah-tanah yang tinggi.
Padahal paru-paruku berontak. Anak istriku berteriak. Mereka berhak atas nafas-nafasku itu.

Kamu seperti musik yang ingin kumainkan. Seperti lagu yang ingin kulantunkan. Seperti film yang ingin ku-sutradarai. Seperti buku yang ingin kutulis...dan waktu-waktu yang diperlukan bersamanya.
Padahal aku seorang insyinyur medioker, yang takluk pada standar, yang probabilitasnya agak tinggi untuk dapat menyuap nasi, atau apapun yang dibutuhkan perut ini.

Kamu seperti istri orang, yang pergi membawa sebagian hatiku, sebagian perasaanku, semenjak awal kita bertemu.
Padahal ada yang diam-diam memperhatikanku. Mencintaiku dengan khidmat. Menyeluruh, tubuh dan jiwa.

Kamu seperti buku-buku di rak toko yang ingin sekali ku baca.
Padahal masih terbungkus plastik

Kamu seperti keinginanku untuk melepas baju, lalu menceburkan diri ke lautan yang luas, dimana ribuan ikan dan warna-warni terumbu karang bersemayam. Menyelam sampai dalam, lalu mengapung di permukaan. Menengadah memandangi awan yang berarak. Melepaskan segala penat.

Kamu seperti cerita yang tiada habisnya. Diulang-ulang, klise, tapi adiktif.

Padahal aku masih punya masa depan.

Padahal waktu terus berjalan.

Manusia adalah makhluk kecil, namun memiliki keinginan yang besar.

Manusia bisa hidup, tapi juga bisa mati karena memiliki keinginan.

Manusia bisa bahagia, tapi juga bisa menderita karena memiliki keinginan.

Tapi manusia akan terus hidup karena memiliki rasa syukur.

Oh Tuhan, bantu aku memutuskan...

Selasa, 20 Mei 2014

Saat Ini dan Yang Belum Kuceritakan

Hai... apa kabar?

Sepertinya sudah lama tidak cerita di sini. Belakangan blog ini isinya cuma beberapa sajak-sajak picisan tentang cinta rombeng dan sebagainya yang mungkin sekiranya bisa dicukupkan dahulu. Karena kebanyakan memble juga tidak baik bagi kesehatan.

Anyway, setelah sekian lama gw tidak menemukan mood yang baik untuk bercerita di sini, maka saat ini izinkanlah abang bercerita kembali... B-)

Gw mau cerita dulu tentang kelulusan gw menjadi seorang sarjana teknik sipil setelah 4 tahun 4 bulan menempuh lika liku kehidupan di Yogyakarta. Kalau ditanya tentang perasaan, tentu akan gw jawab sangat senang. Mengingat apa yang telah dilalui selama di Yogyakarta sungguh suatu perjalanan hidup yang begitu berharga. Padatnya jadwal kuliah, ribuan tugas besar, sibuknya belajar ujian, sampai gw benar-benar dibuat hampir masuk ‘rumah sakit’ gara-gara Tugas Akhir alias skripsi gw yang lama kelarnya.

Rabu, 02 April 2014

Kubus Laknat


Kubus ini terbuat dari persamaan kuantum tentang waktu dan kecepatannya.
Kadang waktu bergerak cepat, lebih sering bergerak lambat. Bagaimana kita menikmatinya.
Pagi, siang dan malam rupanya tak ada beda bagi mereka
Mereka yang menganggap dirinya gerombolan singa,
padahal hanyalah sekumpulan 'munyuk' belaka.

Mereka terkapar pulas dalam naungan kipas angin yang bergerak ke kanan dan ke kiri
Sementara di luar, orang-orang sedang sibuk berdiskusi
tentang teh yang akan diseduh
tentang mangga yang mulai sering jatuh
atau tentang rindu yang masih utuh

Di kubus laknat, satu juta komentar terbuat
mulai dari hitamnya Ahmad, sampai tentang bidadari yang lewat.
Di kubus laknat, orang-orang tak bisa pergi
tertarik gravitasi, atau sekedar mencari penawar sepi.

Laskar Merah pun mulai berdatangan. Siap berperang,
melawan dedaunan yang jatuh dan ranting-ranting yang telah rapuh.
"mereka hanya pantas di neraka!"
teriak Laskar Merah sambil menyeret musuhnya ke tempat sampah.

Tidak lama kemudian Bung Nambi datang.
Menyapa sebentar, lalu menanyakan kabar tentang seseorang.
kalau tidak pemain voli, tentunya yang lain.
yang pasti seseorang...

Saat sore tiba, semuanya semakin ada
Meja pingpong digelar, lembar kartu disebar, sambil musik diputar.
tidak perlu kemana-mana.
Di sini, alam semesta tercipta

Kubus ini terbuat dari rindu,
pada bangku-bangku dan televisi yang abu-abu.
pada pengumuman seminar dan menu hidangan
pada perasaaan yang dilepaskan, tidak ditahan...

Di sini, sendiri atau dengan mereka, sakit hati akan sirna
hanyut dalam petikan dan genjrengan
luntur dalam nyanyian-nyanyian soal perasaan
hilang menjadi doa atau umpatan

Entahlah...
serindu-rindunya rinduku padanya, ia tetap milik siapa saja
semua kisahnya, candanya, dan aroma busuknya
silahkan kita nikmati saja

Sekarang aku akan pergi
pergi jauh...
jauh, sampai kalian kira tak akan kembali
sampai kalian lupa memanggilku apa nanti.

Namun sayang sekali, rupanya kalian salah mengerti
dimanapun aku berada nanti,
sebagian "pulang"-ku tertanam di sini.



Yogyakarta,  10 Januari 2014

Kamis, 20 Maret 2014

Purnama di Bulan Ketiga

Di bawah purnama di bulan ketiga
Aku bungkam
Aku mati
Aku menyerah dalam pasrah

Aku berduka tatkala mereka meraya bahagia

Di bawah purnama di bulan ketiga
Aku hancur seketika
Kupungut diriku yang berserakan tanpa rima
Kukemasi perasaanku
Lalu menghilang...

Yang tertanam, biarlah tetap tertanam
tanpa harus ada yg menuai

Perasaan ini biar kupelihara sendiri
sampai nanti, bulan dan musim berganti...

Bogor, 16 Maret 2014

Senin, 17 Februari 2014

Untuk Kamu Baca Nanti

Di antara sepi dan kesendirian ini
aku masih mengagumimu
Di dalam luka yang orang-orang tidak pahami, pun dirimu
aku masih menyukaimu
Bahkan di atas semua kejelasan ini
aku masih mengharapkanmu

Aku mabuk dalam teori
sibuk menyutradarai mimpi
tenggelam dalam ketakutanku sendiri
Sementara kamu tetap disitu, membisu tak tahu

Perasaan ini sudah hidup dan mati,
segar dan basi selama ribuan tahun
Perasaan yang terlanjur...
lebih pantas dibuang, daripada disampaikan
atau mungkin, lebih baik kujadikan tulisan

Maka,
andai kamu membaca ini
ketahuilah bahwa aku mengagumimu
Aku menyukaimu dan aku mengharapkanmu jadi kekasihku
Serta alasan-alasan yang demikian
sehingga kamu tidak mengetahui
sampai akhirnya aku menulis ini,
dan kamu membacanya nanti

Yogyakarta, 12 Januari 2014

Rabu, 12 Februari 2014

Di Dalam Kereta Menuju Surakarta

Di dalam kereta menuju Surakarta 
Lelah dan kantuk menyesaki gerbongnya 
Debu dan keringat mengendap di antaranya 

Di dalam kereta menuju Surakarta 
Beberapa tak kuasa untuk tetap terjaga 
Mereka terlarut dalam mimpi 
Merindu apa yang menunggu di rumah nanti 

Nikmatilah! 
Kiranya 30 menit sudahlah cukup 
Untuk melupakan hutang piutang 
Untuk melupakan cicilan 
Untuk melupakan sekarang, besok dan semuanya... 

Biar bagaimanapun, hari ini adalah hari ini 
dan hari ini akan segera berakhir 
Entah pada air panas dari pancuran 
atau pada hidangan makan malam 
Entah pada pelukan 
atau pada ciuman... 

Bersyukurlah kalian masih punya mereka 
mereka yang menanti setia 
mereka yang menanti mesra, penuh cinta... 
Setibanya nanti di Surakarta



Antara Yogyakarta dan Surakarta, 15 Januari 2014

Jumat, 03 Januari 2014

Untuk Amanda (baca: Srikandi)

Ini adalah isyarat
Aku harap, aku tidak salah memahaminya

Semalam kulihat di televisi
gadis manis yang mahir baca puisi

Sekarang, aku akan meramal
Dia akan membaca tulisanku
lantas mulai menyapaku
pergi pulang membawa rindu...

Aku bukanlah sesiapa
Bukan si Esa, apalagi Arjuna
Manusia boleh usaha,
Kau dan Tuhan yang berikan lanjutannya...