Selasa, 09 November 2010

Sepi

Hari Jumat lalu seharusnya gw dan temen-temen yang lain menyelesaikan Ujian Tengah Semester yang terakhir yaitu mata kuliah Kesehatan Kerj dan Analisis Resiko. Tapi paginya saat gw bangun tidur dan hendak belajar, tersiar kabar kalau ujian pada hari itu ditunda dikarenakan kondisi Gunung Merapi yang makin parah. Gw yang baru bangun langsung keluar dan semua sudah tertutup debu.
Merapi kembali meletus saat itu dan radius zona tidak amannya dinaikkan menjadi 20 km dari puncak Merapi.

Tidak lama setelah itu, tersiar lagi kabar ada keputusan dari Rektorat UGM bahwa kegiatan perkuliahan di UGM diliburkan seminggu dikarenakan situasi Merapi yang masih belum stabil.

Dan setelah itu, banyak mahasiswa yang mengungsi ke kmpung halaman masing-masing. Ada yang dipanggil orantuanya karena khawatir, ada yang memang parno takut letusan merapi bakal melontarkan material-materil sampai ke Kota Jogja, dan lebih gilanya lagi ada yang Liburan.
Tapi ada juga mahasiswa yang masih stay di Jogja memberikan bantuan kepada korban-korban Merapi. Ada yang bantu jadi TraumaHealer lah, ada yang ngumpulin dana lah, sampai yang megevakuasi.

Sebenernya maksud dari diliburkannya UGM itu apa sih?
Barusan gw chatting sama temen kos gw yang umurnya agak tua. Dia sangat kecewa sama mahasiswa-mahasiswa yang "kabur". Padahal kemampuan dan ilmu yang dimiliki mahasiswa yang harusnya dikembangkan untuk membantu korban-korban letusan Merapi. "Bukannya malah 'kabur', justru UGM diliburkan supaya mahasiswa-mahasiswa menjadi relawan dan membantu korban-korban Merapi..", katanya.
Dia sampai mengumpat tak henti-henti kepada mereka, parah mahasiswa yang "kabur". Tanpa tahu alasan mereka, dia terus saja mengumpat gak jelas kemana-mana, gw malah yang jadi korban...T_T

Di lain sisi, temen gw yang ngungsi balik ke kota asal pernah bilang gini sebelum berangkat, "Gw disuruh pulang sama nyokap gw. Masalahnya ini yang nyuruh nyokap,Cky... bahaya juga kalo gw gak nurut..".
Mungkin sebenrnya mereka pengen banget ngebantu dan bersimpati kepada para korban Merapi, tapi mereka lebih menurut kepada orangtuanya, takut terjadi kenapa-kenapa.

Kalo menurut gw pribadi sih ya terserah bagi mereka yang mau ngungsi ke kota asalnya atau menjauh dari Jogja, toh memang Jogja lagi dalam situasi yang berbahaya. Selama mereka bersimpati terhadap korban Merapi, menurut gw wajar-wajar aja. yang gak wajar tuh justru yag malah senang-senang disaat saudaranya sedang dilanda musibah. Ada gak yah kira-kira orang yg kayak gini?? 

Yasudahlah, sebaiknya tidak usah mengurus oranglain yang tidak harus kita urus.
Kabarnya gejolak Merapi bakalan memakan waktu yang lama. Itu berarti kondisi seperti ini bakalan berlangsung lama sampai Merapi benar-benar mengeluarkan apa yang selama ini mau dikeluarkan. 

"Yaa Allah..hamba mohon sudahi lah amarahmu ini... Berikan kami selalu pertolongan di jalan-Mu dan lindungilah kami dari segala hal-hal yang buruk..."

Senin, 01 November 2010

Merapi Eruption and Anything Beyond It

(foto dari kompas.com)
Setelah beberapa hari Gunung Merapi tidak menampakkan diri, akhirnya pagi tadi ia muncul dengan letusan barunya. Ya, Merapi sudah meletus beberapa kali semenjak hari Selasa lalu. Letusan tadi pagi menghasilkan awan panas yang lebih besar volumenya daripada letusan-letusan sebelumnya. Semoga tidak ada korban jiwa karena semua warga sudah diungsikan ke posko2 pengungsian.
Daerah Jogja sudah 2 hari ini terselimuti debu dari letusan Merapi. Semua jalan, rumah-rumah, pos polisi terlihat putih tertutup debu vulkanik. Orang-orang harus menggunakan masker untuk keluar rumah agar debu-debu vulkanik berdiameter +/- 0,025mm yang beterbangan tidak menganggu pernafasan. Jangan kira debunya sedikit, ketebalannya bisa mencapai 1 cm menutupi jalan Kaliurang! Orang-orang di pinggiran jalan menyiraminya agar debu-debu tersebut tidak beterbangan dan masuk ke pernafasan.

Gw gak kepikiran bisa sampai separah ini. Gara-gara Merapi yang jaraknya sekitar 20km dari Jogja meletus, dampaknya bisa mengacaukan aktifitas di Kota Jogja. Tapi gw masih bersyukur awan panas dan laharnya gak sampai kesini. Debunya saja udah bikin sesak nafas, apalagi awan panas dan laharnya?
Gw rasa memang ini sebuah sentilan dari Allah SWT kepada manusia.
Gw masih inget banget, kurang lebih setahun yang lalu, Padang dirobohkan dengan gempa. Sekarang, kurang lebih setahun setelah kejadian itu bencana-bencana kembali menerjang Tanah Air kita Indonesia. Bukankah semua ini seperti sebuah pertanda, bahwa ada suatu kesalahan dalam sistem di dunia ini (yang tentunya ulah dari manusia) yang mengakibatkan semua bencana ini?
Manusia itu seperti seorang anak yang harus selalu diingatkan apa kesalahannya. Namun anak yang baik adalah anak yang senantiasa memperbaiki kesalahannya.

KPTU FT UGM (Foto dari Krissinto Novan D.)
Pernah denger gak di berita atau di koran-koran ada sebuah judul dari artikel, "Anggaran Jalan-Jalan Anggota Dewan Lebih Besar dari Anggaran Bencana Alam"?
FREAK!!!