Merapi Eruption and Anything Beyond It

(foto dari kompas.com)
Setelah beberapa hari Gunung Merapi tidak menampakkan diri, akhirnya pagi tadi ia muncul dengan letusan barunya. Ya, Merapi sudah meletus beberapa kali semenjak hari Selasa lalu. Letusan tadi pagi menghasilkan awan panas yang lebih besar volumenya daripada letusan-letusan sebelumnya. Semoga tidak ada korban jiwa karena semua warga sudah diungsikan ke posko2 pengungsian.
Daerah Jogja sudah 2 hari ini terselimuti debu dari letusan Merapi. Semua jalan, rumah-rumah, pos polisi terlihat putih tertutup debu vulkanik. Orang-orang harus menggunakan masker untuk keluar rumah agar debu-debu vulkanik berdiameter +/- 0,025mm yang beterbangan tidak menganggu pernafasan. Jangan kira debunya sedikit, ketebalannya bisa mencapai 1 cm menutupi jalan Kaliurang! Orang-orang di pinggiran jalan menyiraminya agar debu-debu tersebut tidak beterbangan dan masuk ke pernafasan.

Gw gak kepikiran bisa sampai separah ini. Gara-gara Merapi yang jaraknya sekitar 20km dari Jogja meletus, dampaknya bisa mengacaukan aktifitas di Kota Jogja. Tapi gw masih bersyukur awan panas dan laharnya gak sampai kesini. Debunya saja udah bikin sesak nafas, apalagi awan panas dan laharnya?
Gw rasa memang ini sebuah sentilan dari Allah SWT kepada manusia.
Gw masih inget banget, kurang lebih setahun yang lalu, Padang dirobohkan dengan gempa. Sekarang, kurang lebih setahun setelah kejadian itu bencana-bencana kembali menerjang Tanah Air kita Indonesia. Bukankah semua ini seperti sebuah pertanda, bahwa ada suatu kesalahan dalam sistem di dunia ini (yang tentunya ulah dari manusia) yang mengakibatkan semua bencana ini?
Manusia itu seperti seorang anak yang harus selalu diingatkan apa kesalahannya. Namun anak yang baik adalah anak yang senantiasa memperbaiki kesalahannya.

KPTU FT UGM (Foto dari Krissinto Novan D.)
Pernah denger gak di berita atau di koran-koran ada sebuah judul dari artikel, "Anggaran Jalan-Jalan Anggota Dewan Lebih Besar dari Anggaran Bencana Alam"?
FREAK!!!


Kemarin gw sempet naik ke atas ke Posko Kepuharjo (posko tertinggi) di kaki Merapi tempat warga diungsikan. Disana gw liat sudah banyak banget Institusi-institusi yang memasang banner-banner mereka masing-masing yang kebanyakan bertuliskan, "Posko (nama institusi/perusahaan) Tanggap Peduli Merapi". Semua pihak saling pasang banner membuat jalanan yang tadinya tertutup debu putih menjadi berwarna-warni. Semua saling memberikan bantuan, hanya saja gw gaktau bantuannya seperti apa.
Gw sendiri kesana dibawah panji MER-C Indonesia dan KMTS UGM. Karena gw sepertinya tidak mungkin untuk mencari dan mengevakuasi korban, jadi bantuan yang gw berikan hanya bantuan tenaga sebisa gw, yaitu menghibur anak-anak dalam pengungsian. Gw senang melakukan hal itu disamping bila itu bermanfaat bagi mereka. Mereka (anak-anak pengungsian) sudha terlihat ceria saat gw datang, mengindikasikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran. Anak-anak diberikan buku-buku dari perpustakaan berjalan, diberi cemilan-cemilan kesukaan mereka dan permainan-permainan yang membuat semuanya gembira.
Saat waktu sholat tiba, gw dan temen-temen relawan yang lain yang mengurusi anak-anak menggiring anak-anak untuk segera berwudhu dan sholat, dan itu merupakan pekerjaan yang cukup sulit.
Setelah gw beres sholat, tiba-tiba seseorang dari PMI yang juga relawan menghampiri gw dan kita mengobrol sebentar. Dia bilang kalo dia sering menjadi relawan bencana2 alam di Indonesia, dan biasanya ada satu hal yang harus diperhatikan saat bencana alam terjadi dan pada saat korban diungsikan seperti ini. Yaitu masalah Aqidah. Menurut pengalamannya, setiap ada bencana dan ada posko pengungsian seperti ini, orang-orang dari berbagai kalangan langsung mengirim bantuan. Bantuan bermacam-macam dari mulai makanan, pakaian, dan lain-lain. Nah, disaat-saat seperti ini pihak-pihak yang tidak baik memanfaatkan kesempatan untuk meruntuhkan aqidah daripada korban-korban bencana alam. Bencana alam yang seharusnya dijadikan momentum untuk berintrospeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan, malah sebaliknya. Gw langsung terkajut mendengar kenyataan itu dan langsung sadar. "Kamu bayangin, mereka yang diberikan bantuan pasti merasa punya hutang budi kepada yang memberi bantuan, iya kan? Apalagi disaat sekarat seperti ini...", bapak itu bilang. "Seharusnya mereka pada sholat karena sudah waktunya, tetapi dibawa oleh orang lain untuk dibantu, bilangnya belajar lah...kamu liat sendiri kan?", bapak itu melanjutkan. Gw langsung sadar dengan kejadian sebelumnya dimana gw susah banget ngajakkin anak-anak sholat dan mereka malah kabur entah kemana. Hal-hal kecil seperti ini kadang suka terabaikan disaat genting. Maka bapak itu mengingatkan kepada gw kalo bisa teman-temannya dikasih tau mulai sekarang yang muslim selalu diingetin untuk sholat dan selalu dirangkul agar tidak terjadi apa-apa.
Manusia kembali diingatkan...

Alhamdulillah kayaknya debu-debu di jalanan sudah mulai berkurang, mungkin karena hujan yang kemarin sempat turun dan membawa semua debu dijalanan.
Tapi UTS belum beres...semangat lagi ah! uhuk uhuk...

Komentar

  1. wah mau dong gw kesana ki, pengen jadi relawan ih gw juga

    BalasHapus
  2. ke Mentawai mending gar...

    BalasHapus
  3. pengen juga gw ke mentawai tapi gw sendiri ga punya dana euy. ahahaha

    BalasHapus
  4. bantu doa ge masih bisa cor...

    BalasHapus
  5. ah tegar mah mau jalan-jalan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phunsukh Wangdu

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Another Cheesy Thing