Senin, 20 Juni 2011

Journey to The East (Cerita Perjalanan Backpacking Flores) - 2

sambungan dari : 
Journey To The East (part 1)
Journey To The East (part 3)


Kamis, 27 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Nasi Bantal
Jam 06.30 kami udah bangun dan langsung denger pengumuman untuk penukaran tikket dengan sarapan pagi sudah bisa dilakukan dengan menghubungi ABK di pantry. Segera kami beranjak kesana karena perut sudah lapar. Setelah menukarkan tiket da mendapatka 1 kotak + 1 minum gelasan per orangnya, kami langsung kembali ke lapak kami. Yang ngambil makanan biasanya cuma 2 orang aja, waktu itu Gw dan Kicol, kadang-kadang masih ada yang tidur jadi kalo gak diambil buru-buru nanti penukaran tiketnya ditutup. Ternyata si Ucup ibarat perokok, dia itu penidur berat. Tiket-tiket Mbak Selly, Elis dan Oma pun sekalian Gw dan Kicol yang ambilin biar gak repot.
Kami memang tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi dengan makanan di dalam kotak itu. Yah, namanya juga gratisan. Ternyata isinya sarapan pagi kami kala itu adalah nasi dengan potongan (tampaknya) telur dadar 1/4 bagian dilumuri kuah sarden. Benar saja dugaan kami, setidaknya selera makan tidak turun. Karena sudah lapar memang, kami langsung sarapan bersama. Oh, ternyata tak disangka tak dinyana potongan telur tadi sepertinya tidak sepenuhnya telur. Mungkin hanya 1/2 bagiannya yang telur, atau 1/4 bagiannya yang telur, atau malahan 1/1000nya yang telur, sisanya tepung terigu!!! Philip udah mulai agak malas-malasan makannya, apalagi si Fuad yang terus-menerus merengek tentang gizi. "eh atuh eh.."


2 menu setia di kapal Awu : Nasi ikan & Nasi Bantal
Ya mau bagaimana lagi, beginilah kondisi di kapal ini dan beberapa hari berikutnya di kapal, ketimbang beli nasi Ayam + sayur yang mahal itu, uang kita sudah habis duluan. Untung saja kami bawa perbekalan penunjang yang lain seperti sozzis dan abon, meskipun jumlahnya juga terbatas. Jangankan kami yang jarang naik kapal, mbak Selly pun bilang, "Nah, gini lebih enak kalo pakai abon, daripada hanya nasi sama bantal...". Dan semua pun tertawa terbahak-bahak.


Bioskop Kapal
Kegiatan di kapal tidak berbeda jauh dengan kegiatan di agen hari sebelumnya. Makan, tidur, dan ngobrol. Bedanya teman ngobrolnya sekarang makin banyak. Oma suka sekali cerita, dia cerita tentang anaknya yang banyak sambil nunjukkin foto-fotonya, dia juga cerita tentang Kelimutu dan bagaimana untuk menuju kesana, lalu tempat - tempat lain yang bisa dikunjungi di Ende, semua membuat kami semakin tertarik untuk kesana dulu sebelum ke P.Komodo tujuan utama kami.
Kegiatan lainnya yah paling main kartu, dan nongkrong di dek luar kapal. Enak sih awal-awalnya menikmati laut, tapi kalo kelamaan malah masuk angin, apalagi goyangan ombaknya bikin puyeng, terus pemandangannya juga air laut aja sejauh mata memandang. Kecuali kalo udah mendekati pelabuhan, baru deh keliatan kontur-kontur pulau yang indah.
Hari pun menjelang siang dan semakin panas, semakin tidak produktif. Tiba-tiba terdegar suara pengumuman dari speaker bahwa akan diputar sebuah film di dek lantai 3 dengan judul "Brutal Love". Gw lupa nama pemainnnya, tapi si pemberi pengumuman ngomong begini, "...pemain yang sudah tidak asing lagi, menegangkan, sensasional, sensual dalam beradegan..". Waduh, film apaa nih? Philip, Kicol, Fuad dan Ucup yang sudah bosan da ingin mencari kegiatan sekaligus penasaran dengan pengumuman itu langsung beranjak ke dek lantai 3 untuk membeli tiket yang harganya IDR 10.000. Karena harganya 10ribu itu aja gw udah males, mending tidur aja sekalian jagain barang-barang.

The Brutal Love
Sekitar 1 setengah jam berikutnya mereka datang kembali. Mereka bilang kalo filmnya emang film "blue" tapi kategori "semi". Waduh, di tengah permukaan laut Jawa gini ada film bokep diputar dan diumumkan keras-keras? Penumpangnya kan tidak semua orang dewasa apalagi saat beli tiket diatas juga tidak diperiksa KTPnya. Gimana kalo ada bocah yang masuk ke atas karena penasaran? Yah paling tidak saat beli tiket diperiksa kek KTPnya. Tapi ngomong-ngomong bioskop gini penting juga kali yah buat para suami yang berminggu-minggu jauh dari istri dan kebutuhan biologisya tidak terpenuhi. Daripada selingkuh atau hamili anak orang?
Other Menu
Waktunya makan siang. Pokoknya setiap pagi, siang dan malam (kadang-kadang magrib) pasti ada pengumuman untuk penukaran tiket dengan makanan. Dan ternyata menu siang ini berbeda dengan tadi pagi. Lebih bergizi setidaknya walaupun rasa tidak terlalu berbeda. Kami makan siang dengan ikan goreng + sayur sawi.
Alhamdulillah, setidaknya lebih baik daripada nasi bantal tadi pagi. Kami makan bersama-sama kembali. Selalu seperti itu, setiap makan kami bersama-sama, jadi merasa seperti punya keluarga baru di dalam kapal ini. Dengan makanan yang "All Size" begini, membuat gw lebih menghargai lagi mereka-mereka yang bekerja keras demi sesuap nasi, karena sesuap nasi itu begitu penting bagi kehidupan manusia, sekalipun nasi itu hampir basi. Jadi tersindir kalo gw dulu kadang-kadang suka pilah pilih makanan yang udah dibuatin ibu gw buat makan, trus kadang-kadang juga makanan suka gak diabisin.
Kegiatan di kapal ya begitu-begitu saja. Tidak terasa hari pun sudah menjelang gelap dan tepat pukul 19.48 kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Benoa Bali. Penumpang-penumpang baru berseliweran mencari tempat untuk tidur. Yang gw perhatiin sih kebanyakan dari seluruh penumpang di kapal ini adalah pedagang. Ada pedagang buah, pedagang baju, pedagang parfum dan lain sebagainya. Gw diceritain sama si Ading, orang arab yang juga pedagang bahwa alasan banyaknya pedagang yang melakukan perjalanan dengan kapal ini adalah daerah timur Indonesia seperti NTT dan Irian itu jarang yang punya kebun buah-buahan. Makanya banyak pedagang dari Pulau Jawa, Bali dan Lombok yang rela jauh2 ngejual dagangannya ke sana karena memang disana buah-buahan itu dicari dan dibeli mahal. Begitu katanya…
Ucup singing
Malamnya ketika kami bosan dan mencari-cari kegiatan terdengar pengumuman dari kapal bahwa ada Live Music di dek lantai dua dan bagi penumpang dipersilahkan masuk gratis asalkan dengan pakaian sopan. Kami pun langsung menuju kesana dan itu tempatnya seperti café gitu. Terdapat panggung kecil dengan biduanita dan seorang keyboardist lalu meja-meja penonton. Kami langsung cari meja kosong dan langsung duduk saja menikmati alunan musik yang dinyanyikan biduanita tersebut. Setelah barang 2 lagu, biduanita tersebut mungkin merasa bosan da mengajak para penonton untuk menyanyi bersama. Namun para penonton pun diam malu-malu kucing. Akhirnya tersebutlah Ucup dengan pede setengah matinya mengankat tangan dan siap untuk berduet dengan biduanita tersebut. Yah, gw baru tau nih orang kagak beresnya beginian… Ucup pun menyanyi 2 lagu salah satunya lagu Armada – Mau dibawa Kemana. Bukan mengejek, tapi memang banyak nada yang keluar jalur. Tapi yang perlu diakui adalah muka tebalnya itu lhooo… Salut deh cup! Yang lainnya hanya bisa ikut-ikutan tertawa…
Malam kedua di kapal ditutup dengan badan yang masih bau keringat karena 2 hari gak mandi. Kenapa gak mandi? Karena belum bersahabat dengan kamar mandi kapalnya. Huehehehehe…


Jumat, 28 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Wet Dream
Entah kenapa sungguh sialnya gw waktu itu. Pagi-pagi bangun jam 04.00 WIB tau kalo celana udah basah dan waktu untuk solat subuh tinggal sejam lagi menurut WITA. Mau tidak mau gw harus mandi besar dan kenalan sama kamar mandinya, terutama shower nya. Langsung gw masuk kamar mandi sambil menahan bau yang entah berasal dari mana. Gw putar tuas shower dan byuurr.. pancuran yang berlubang satu itu langsung membasahi seluruh tubuh. Gak peduli gw langsung sabunan dan keramas, bau-bau tadi tergantikan dengan harum sabun dan sampo yang gw pakai. Akhirnya, gw mencicipi juga kamar mandi KM Awu ini, dan kayaknya ini adalah mandi pertama dan terkahir gw di KM Awu ini. Yang penting bisa sholat subuh deh. Oiya gw belum cerita tentang musholla di kapal ini yang ada di dek lantai 3. Mushollanya lumayan bagus kok, ber-AC dan bersih, jadi bikin nikmat kalo beribadah. Yang gw inget itu pernah sekali waktu mau sholat dzuhur gw mau ambil wudhu tiba-tiba ditepak tangan gw sama ABK yang lagi wudhu juga. Dia nunjuk ke arah kaki gw dan gw baru nyadar kalo gw masih pake alas kaki padahal ditempat wudhu itu udah batas suci. Keras banget dia nepak tangan gw dan tanpa berkata apapun, makanya gw sampe sekarangpun masih inget.
pemandangan dari kapal (lansekap P.Lombok)
Gak ada yang berubah dengan aktifitas kita seperti hari kemarin. Bangun, sholat tidur, makan, ngobrol, tidur lagi. Gitu aja terus sampai malem. Mungkin bedanya kami dan penumpang lainnya semakin akrab aja kali yah soalnya ngobrolnya udah kemana-mana dan udah mulai saling ngerti bagaimana karakter masing-masing meskipun hanya sedikit. Gw mulai merhatiin si Ading yang kerjaannya saban hari keliling kapal nawarin dagangannya, entah itu kopi ataupun parfum. Ini orang emang berbakat dan cukup hebat dalam berkomunikasi dan membangun jaringan. Kadang-kadang dia keliling kapal dengan membawa sebagian dagangannya, gak lama kemudian balik lagi terus ngambil dagangannya yang lain. Dia bilang ada yang mau beli di dek sebelah. Semua orang diajak ngobrol sama dia, minimal bertegur sapalah. Dari sok kenal sok deket ini, ujung-ujungnya dia nawarin barang. Canggih bener ini orang. Tapi dia orangnya baik kok, gw dan yang lain sering ngobrol sama dia dan ternyata dia udah sering bolak-balik Surabaya-Waingapu buat jualan parfum. Lumayan untungnya katanya. Gw salut lagi karena dia usaha parfum bangun sendiri dari nol. ABK-ABK juga udah pada kenal sama dia, orang ABK-ABK badannya pada bau, jadinya mereka butuh parfum lah, dan belinya di si Ading ini. Dari ngobrol-ngobrol sama si Ading ini, kami akhirnya menemukan titik cerah tentang permasalahan perpanjangan tiket ke Ende. Katanya dia mau bantuin kita, udah biasa katanya seperti itu, tenang aja katanya. Kami pun jadi bertambah lega. Diapun pergi entah kemana dan kembali dengan kabar gembira bahwa perpanjangan tiket bisa diurus, satu orang bayar 100ribu saja. Wah, ini setidaknya dibawah perkiraan kami sebelumnya, kalopun si Ading mau ambil untung, biarlah kami kasih dia dari uang itu. Dia bilang nanti malam bakala diurus katanya, tenang aja.
Sholat Jumat di Atas Laut
Jam menunjukkan pukul 10.30, kapal pun bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok. Jadi inget perjalanan ke Lombok beberapa bulan yg lalu. Disinilah tempat pertama kali gw bertemu Bakos dan Pak Mauri yang menjadi guide kami dulu selama di Lombok karena memang kami kurang banget informasi soal Lombok. Penumpang baru pun berdatangan, pedagang asongan juga ikutan. Ada yang jual makanan untuk sarapan, juga ada yang jual air minum kemasan. Kalo di Lombok, ada air minum kemasan khasnya yaitu dengan merk Narmada, dari mata air Gunung Rinjani. Yang namanya A*ua mungkin kalah beken sama si Narmada ini di Pulau Lombok.
Hari pun menjelang siang, adzan berkumandang memanggil umat muslim untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Karena kapal sekarang dalam kondisi berlabuh dan posisinya tidak sama saat sedang dalam perjalanan, maka arah sholatnya pun jadi berubah. Jadi waktu semalam gw sholat isya Ngadep depan musholla, sekarang sholat Jumat karena arah kapalnya berubah, jadinya sholat menghadap belakang mushollah deh. Begitulah serunya sholat di atas laut, pengalaman…
Teman Baru
Setelah sholat Jumat selesai, kira-kira jam 12.15 kapal mulai bergerak kembali menuju Bima di Pulau Sumbawa. Setelah makan siang, kegiatan pun tidak berubah seperti biasa, sampai bosen gw nyeritainnya. Tidur, baca buku, ngobrol, keluar dek, atau nonton bioskop kapal. Seputaran itu saja. Hari – hari di kapal pun terasa seperti lebih lama dari hari biasa.
Sampai sore harinya kami yang lagi asik nongkrong menunggu sunset di dek luar dsamperin sama Hamdan, relawan dari Ibu Foundation yang tidur di belakang tempat tidur kami. Dia nyamperin kami karena kami ngobrol dengan bahasa Sunda, dan ternyata si Hamdan ini orang Bandung yang tinggal di Malang. Jadilah kami ngobrol panjang lebar. Mereka (Hamdan, istrinya dan kakaknya) adalah relawan dari Ibu Foundation yang sedang menjalankan misi memberikan pendidikan di Pulau Sumba, gw lupa nama kota tepatnya mereka mengajar. Mereka bakalan disana selama 8 bulan. Kami pun dundang untuk mampir kesana dan saling bertukar kontak. Kang Hamdan cerita ke kami betapa indahnya Pulau Sumba yang membuatnya telah jatuh cinta setengah mati sampai mau tinggal 8 bulan disana tanpa sinyal Handphone ataupun internet. Dia cerita tidak hanya keadaan alamnya yang menawan, tapi masayarakat di Sumba pun sangat baik dan ramah serta menjunjung tinggi rasa toleransi. Dia cerita suatu saat dia diundang makan oleh kepala desa yang merupakan umat kristiani dan hendak memasak daging babi untuk makan. Namun Kang Hamdan bilang bahwa dia seorang muslim, dan si kepala desa pun sampai menyuruh Kang Hamdan untuk memotong ayam sendiri dan memisahkan alat-alat makan yang dipakai untuk Kang Hamdan. Kang Hamdan cerita, "Orang di sana (Sumba) memang keras-keras dan menyeramkan kalo marah, tapi sekalinya kita sudah 'mencuri' hatinya, apapun bakalan diberi…", begitu katanya.
Philip and Luca just met and took a pose
Oleh Kang Hamdan kami juga dikenalin sama 2 orang bule yang katanya juga punya tujuan yang sama dengan kami yaitu Kelimutu dan Pulau Komodo, mereka baru naik kapal di pelabuhan Lembar Lombok. Mereka adalah Luca dan Samia, sepasang kekasih yang, berasal dari negara berbeda, Luca dari Italia sedangkan Samia dari Perancis. Mereka tinggal satu atap di Spanyol, yang satu seorang juru masak, si cewek jadi pelayannya. Kami pun ngobrol-ngobrol bersama sambil matahari mulai mendekat ke garis cakrawala. Kami dan Luca Samia punya tujuan yang sama, setelah berbincang-bincang akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama-sama, jadi tim kami pun bertambah 2 orang. Sayangnya kami gak enak dengan Mbak Selly kalo bawa-bawa bule tidur di trumah dia, jadi kami menyarankan Luca Samia untuk menginap di hotel saja saat tiba di Ende nanti.
Luca orang yang lucu dan pintar saat pertama kali gw ngeliat. Gaya cerita dan mimik mukanya kadang-kadang membuat kami tertawa. Sedangkan Samia menguasai kurang lebih 4 bahasa, Inggris, Perancis, Spanyol dan Arab. Sebentar lagi nambah bahasa Indonesia katanya, targetya tahun depan. Ternyata dia memang keturunan Arab Aljazair, dia seorang muslim, tapi selama gw kenal dia, gak pernah gw ngeliat dia sholat ^^. Kulit Samia agak kecoklatan mirip orang timur gitu dan hidungnya tidak terlalu mancung. Itu yang membuat dia kadang-kadang dikira orang Indonesia asli.
menikmati senja
Obrolan pun berakhir saat matahari terbenam dan panggilan adzan magrib berkumandang. Disitulah awal pertemuan kami dengan Luca dan Samia yang nantinya mereka bakalan "nebeng" terus dengan kita dan melakukan "simbiosis mutualisme". Setidaknya kemampuan bahasa Inggris kami agak meningkat sedikit lah karena seringnya bercakap-cakap dengan mereka.
Malamnya kami punya teman ngobrol baru, Luca dan Samia. Kami ngobrol macem-macem sampe kami bingung mau ngobrolin apa lagi. Kami kenalin mereka ke Mbak Selly, Oma dan Ading. Eh, malah dijadiin bahan bercandaan, maklum, Luca dan Samia terlihat paling mencolok diantara penumpang kapal lainnya. Orang-orang bingung kenapa Luca dan Samia mengambil dek ekonomi, padahal biasanya orang bule minimal naik di dek kelas 2 atau di kelas yang lebih tinggi dari itu. Luca pun menjawab bahwa dia memang ingin melihat dan berbaur dengan orang Indonesia lebih dekat, sekaligus menghemat ongkos. Luca Samia sedang dalam liburan menjelajah Indonesia dari Pulau Sumatera dan akan berakhir di Timor katanya. Dan mereka telah bertemu banyak orang selama perjalanan tersebut, salah satunya ya kami ini.
Disela obrolan, datanglah Ading yang baru beres dagang keliing kapal. Dia memberi kabar tentang tiket terusan yang kami inginkan. Dia bilang besok saat pemeriksaan tiket setelah kapal beranjak dari Bima kami harus pergi ke Kantin kapal di dek paling atas. Nanti ada ABK yang akan memeriksa tiket kami dan setelah itu urusan beres. Kami pun diminta untuk santai saja dan tidak usah tegang. Kami pun memberika uang untuk terusan itu ke Ading dan setelah itu dia pergi mengurusi semuanya. Sungguh tokcer memang si Ading ini. Sebagai rasa terimakasih kami, kami membeli 2 botol parfumnya untuk di perjalanan, karena kami jarang mandi da itu membuat badan kami cukup bau sekali…hihihi…
Saat hendak tidur, penyakit gw kumat, bentol-bentol yang awalnya gw kira digigit nyamuk makin lama maki membesar membentuk pulau-pulau di kulit tangan gw. Biasanya alergi gini muncul kalo lagi cuaca dingin dan itu juga angin-anginan. Katanya sih keturunan dari darah nyokap gw yang juga suka kadang-kadang alergi gini. Namun orang-orang ngeliat gw jadi pada panik soalnya emang bentukya agak kurang enak dilihat. Langsung aja Mbak Selly dan Oma mengolesi gw dengan minyak tanah supaya gak gatal, sungguh baiknya orang-orang ini (unyuuu). Sambil gw jelasin kalo alergi ini memang kadang-kadang muncul cuman gw gak tau pemicunya yg kali ini apa. Biasanya untuk ngilanginnya gw cuma minum susu anget trus lama kelamaan ilang sendiri. Dan kejadian itu pun menutup malam ini setelah gw meminum susu anget buatan gw sendiri tentunya.


Sabtu, 29 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Politik Kapal Laut
Selamat pagi! Sepertinya kami sudah mulai kerasan dengan kecoa-kecoa kecil yang menemani kami selama tidur dalam perjalanan kapal. Pagi-pagi jam 07.30 kapal sudah bersandar di Pelabuhan Bima, dan ini pertama kalinya gw melihat pelabuhan Bima yang sungguh indah nian. Lansekap pulau Sumabawa yang begitu natural, bukit bukit hijau terlihat dari pelabuhan dan gw merasa seperti menemukan bagian baru dari negara Indonesia yang gw kenal sejak lahir ini. Kata orang, saat kapal berlabuh di pelabuhan Bima ini kami harus selalu stand by di tempat kami menjaga barang-barang sampai kapal berlayar kembali, karena sering terjadi pencurian soalnya bayak sekali pedagan-pedangan yang masuk ke kapal untuk menjual dagangan seperti di kereta atau di bis gitu. Yasudah selama kapal berlabuh kami hanya di tempat tidur kami sambil memerhatikan pedagang-pedagang da penumpang yang masuk. Muka orang-orangnya sudah mulai terlihat ke-"timur"-annya, beda dari pedagang-pedagang yang kami lihat di pelabuhan-pelabuhan sebelumnya dari mulai Surabaya, Bali dan Lombok. Nah, kalo di Lombok merk airminumnya Narmada, lain pulaut lain air minum kemasannya. Kalo di Bima merk air minum kemasannya Alama, dari mata air yang saya lupa namanya…hehehe… Pedangan air minum kemasan ini kbeanyakan anak-anak kecil yang mondar-mandir menenteng 1 botol air ukuran besar dan beberapa botol ukuran kecil sambil berteriak teriak menawarkan barang dagangannya. Kami membeli sarapan Roti Bakar yang lumayan menarik hati kami dengan harga 5000 rupiah saja. Lumayan karena ukuranya cukup besar dan bisa untuk dibagi-bagi, sebagai pemancing nafsu untuk makan paket makanan dari kapal.
Philip, dibelakangnya lansekap P.Sumbawa
08.05 kapal lanjut berlayar dan langsung keluar menikmati keindahan lansekap pulau Sumbawa saat kapal meninggalkan pelabuhan sambil menjemur diri, alhamdulillah bentol-bentol semalem sudah mulai hilang apalagi setelah dijemur dengan matahari pagi begini. Setelah cukup menikmati pemandangan yang indah dan kapal semaki jauh meninggalkan pelabuhan Bima, kami bergegas menuju kantin kapal di dek paling atas sesuai rencana dari Ading sebelumnya karena sudah waktuya pemeriksaan tiket. Kami mengajak serta Luca karena kasian Luca kalo kita tinggal gak ada teme soalnya Samia masih tertidur pulas. Setelah sampai di kanti kapal dan menunggu beberapa menit, 3 orang ABK kapal datang dan salah satunya menghampiri kami dan memastika bahwa kami orang yang dimaksud oleh Ading. Seperti adegan di film-film, si ABK pun berakting seolah tidak ada apa-apa diantara kita lalu mengembalikan tiket kami dan langsung pergi mengajak kedua temannya yang lain. Alhamdulillah kami aman dan dapat melanjutkan perjalanan, meskipun tidak bisa dapat makan gratisan lagi untu makan siang, makan malam dan besok pagi karena tiket kami adalah tiket fiktif dan sudah tidak berlaku lagi untuk ditukarkan dengan makanan. Yah beginilah, gw juga sebenarnya gaktau masuk kemana itu uang yang kami kasih untuk tiket terusan. Bisa saja uangnya hanya sampai ABK dan Ading saja, atau mungkin ada pemeran-pemeran lain yang dapat bagian kecil dari uang kami. Ini semua menggambarkan bagaimana lemahnya sistem yang ada di negara kita ini. Dengan uang segalanya bisa berjalan mulus. Yah disamping kami juga memang butuh tiket terusan itu. Tidak mengapa lah, setelah dihitung-hitung harga tiket terusan masih tetap dalam batasan wajar kok, dan kami gak peduli untuk siapa pun uang itu berlabuh, yg penting kami dapat lajut terus ke Ende. ^^
Perpisahan I
Malam ini kapal akan berlabuh di Waingapu, Pulau Sumba. Itu artinya ada 2 rombongan dari keluarga kami yang akan turun dari kapal untuk mengakhiri perjalanan ini. Ading yang sudah siap untuk mengais nafkah halal demi istrinya walaupun harus mengarungi lautan dan menyebrangi beberapa pulau-pulau. Hamdan dkk yang sudah siap untuk berkontribusi kepada negeri dengan memberi pendidikan kepada anak-anak yang memang mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan di daerah terpencil yang "jauh" dari jangkauan pemerintah. Mereka-mereka layak disebut pejuang, dan mereka adalah keluarga kami.
Kami semua berkumpul dan berbincang-bincang untuk terakhir kalinya sebelum melepas pejuang-pejuang kami ini. Entah mengapa gw merasa nyaman sekali waktu itu, seperti menemukan benar-benar sebuah keluarga baru yang meskipun baru kemarin ketemu, tapi seperti sudah lama sekali kenal. Tawa dan canda menghiasi perbincangan kami, meskipun Luca tidak terlalu paham apa yang sedang kami bicarakan, namun gw mencoba menerjemahkan ke Luca bahwa kami semua disini adalah orang-orang yang berbeda-beda asalnya, berbeda-beda umurnya, dan dipertemukan di kapal ini. Membuat kami semua memiliki nasib yang sama, dan menghadapi hari bersama-sama. Kami makan bersama, tertawa bersama, tidur bersama, saling bercerita saling bertukar pikiran dan keadaan ini membuat kami semua seolah menjadi sebuah keluarga dimana kata pamrih tidak pernah ada di dalam kamusnya.

Tidak berhenti-berhentinya Kang Hamdan beserta istri dan abangnya ngajak kami untuk mampir ke tempat mereka di Sumba. Katanya kami hanya tinggal urusin masalah transport aja, sisanya selama di Sumba gak usah dipikirin katanya. “Kalo bisa datang pas ada acara Pasola, itu acara setahun sekali. Adu kejantanan laki-laki di Sumba”, katanya menarik perhatian kami. Kami ingin sekali untuk menerima ajakannya dan berharap lain waktu dapat mengunjungi Kang Hamdan beserta murid-muridnya di Sumba. Oiya, gw lupa cerita tentang satu orang lagi kawan kami di kapal yang bernama Nus. Dia orang Sumba yang kuliah di Malang. Sebelumnya dia pernah kuliah di Jogja di Universitas DW. Cuma di drop-out gara-gara berantem sama anak dosen, eh dosennya juga ikut kepukul… Tapi Nus orangnya baik, dia dalam perjalanan pulang kampung dan cara bicaranya yang patah-patah itu yg membuat gw inget sama dia. Dia akan turun di Waingapu bersama Kang Hamdan dkk dan juga Ading Parfum.
Yah, jam 22.00 malam kapal bersandar di pelabuhan Waingapu. Kami pun saling berpelukan dan saling berpamitan memohon doa restu. Yang cowok-cowok pada bantuin ngankatin barang-barang keluar kapal. “Oma, kami nitip anak-anak ini yah..”, pamit istrinya Kang Hamdan kepada Oma. Wah, betapa tersentuhnya gw mendengar kata-kata itu.
Selamat jalan Ading Parfum, semoga Waingapu dan Pulau Sumba semakin wangi, dan wanginya sampai ke seluruh penjuru dunia.
Selamat jalan Kang Hamdan dkk, Indonesia sangat butuh orang-orang seperti kalian.
Selamat Jalan Nus, putra Sumba. Sampai jumpa lain waktu dan semoga tidak mukul orang lagi ^^
Setelah bongkar muat selama 2 jam, KM Awu nan perkasa ini pun kembali membelah lautan menuju destinasi akhir kami dalam pelayaran ini, Kota Ende. Kami pun tertidur pulas menyiapkan energi untuk meneruskan perjalanan baru besok.



Minggu, 30 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Welcome Raining
Pagi sekali kami bangun dan langsung packing karena sebentar lagi kapal akan berlabuh di Pelabuhan Ende. Kami sarapan dan berbincang-bincang sambil menunggu kapal sampai di pelabuhan dengan ABK-ABK yang selama 4 hari ini “melayani” kami. Dari yang tangan gw dikeplak sampai yang colokan multi-port kami diambil begitu saja karena katanya port listrik di kapal tidak kuat, padahal mah… Oiya, suatu saat pernah di dalam kapal dilakukan simulasi bahaya gitu, terus para ABK ini memberi contoh cara pemakaian life vest seperti yang dilakukan pramugari- pramugari di pesawat terbang. Namun ada beberapa ABK yang mangkir, bukannya memberi contoh pada kami para penumpang, malahan mondar mandir gak jelas sambil make life vest.
Finally, jam 10.00 kapal berlabuh di pelabuhan Ende. Kami tidak sabar untuk turun, kami bergotong royong menurunkan barang-barang keperluan salon punya Mbak Selly. Yang cowok-cowok pokoknya kudu waji ngangkat barang double. Luca juga ikutan ngangkat. Tapi semua diluar dari ekspektasi kami, pas kami turun hujan gerimis rintik-rintik menyambut. Tapi gw sempet terpesona melihat air laut pantai pelabuhan Ende yang begitu jernih bersandingkan bukit-bukit. Ada anak kecil main kayak enak sekali di pinggir pantai. Penyambutan yang tidak terlalu buruk lah setidaknya…
Gw, Luca, Samia, Fuad, Philip, Kicol dan Elis
Hujan pun semakin deras dan kami harus mencari tempat berteduh sedangkan banyak sekali penumpang yang turun dan akan naik kapal di dalam gedung pelabuhan yang hanya sebesar kantor lurah itu. Gw dan Luca akhirnya mengambil posisi di bawah tritis gedung dan menjaga barang-barang yang telah diangkut turun, cowok-cowok yang lain ngangkat sisa barang di kapal. Suasana pada waktu itu begitu riuh. Suara kondektur-kondektur angkot sahut menyahut, hujan yang semakin deras, dan barang-barang yang semakin basah. Akhirnya setelah penumpang di dalam gedung menaiki kapal, kami pun dapat leluasa beristirahat di dalam gedung menunggu huja reda. Supir-supir angkot tidak hentinya menawari kami, tapi kami masih ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Ada seseorang yang sebelumnya kami kira adalah sesama penumpang karena nanya-nanya kami darimana, mau kemana dan menyarankan kami untuk kesana dan kesini di Flores, namun ternyata ujung-ujungnya dia ngasih kartu nama dan menawarkan jasa Travel. Dia bisa mengantar kami ke beberapa lokasi wisata di Flores. Itulah hari pertama kami bertemu dengan supir Travel itu, tapi kami hanya mengambil kartu namanya saja untuk jaga-jaga.

Perpisahan II
Mbak Selly menawar-nawar harga dengan supir angkot sampai akhirnya deal dan kami semua naik dalam satu angkot. Barang-barang salon mbak Selly dan sebagian carrier kami diikat diatas mobil Elf yang seukuran Travello ini, lalu kami semua (gw, Philip, Kicol, Fuad, Ucup, Mbak Selly, Elis, Oma, Luca dan Samia) masuk kedalam bersama sisa carrier yang lain. Kami carter angkot tersebut untuk mengantar kami kerumahnya Mbak Selly dan terakhir mengantar Oma kerumahnya. Angkot di Ende gak ada yang gak gaul, minimal punya sound system dan spoiler, udah kayak Formula 1 aja yah?
Jam 11.00 kami sudah sampai di rumahnya Mbak Selly dan disambut oleh segambreng keponakannya Mbak Selly yang masih pada bocah. Elis langsung memeluk anak bayinya yang masih kecil dan mencium-ciumnya kangen. Ramai sekali waktu itu, apalagi kami bawa 2 orang bule. Kebayang kan hebohya mereka seperti apa…
Tapi kami harus berpisah dengan Oma disitu. Oma meminta kami untuk menyempatkan diri mampir kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Mbak Selly. Lalu kami berpelukan dan berpamitan, Oma meneteskan air mata. Sampai segininya. Kami pun berpamitan dan memohon doa restu juga berjanji kalau sempat akan mampir dulu ke tempat Oma sebelum lanjut ke Labuan Bajo.

House of Kind People
Kami semua masuk kerumah Mbak Selly dan dikenalkan pada ibunya Mbak Selly serta kakak-kakaknya. Mereka menyambut baik kami walaupun mereka tau bahwa kami bakal agak merepotkan mereka, mengingat jumlah kami yang cukup banyak, hehehehe… Kami langsung disuguhin teh hangat da beberapa cemilan sambil beristirahat dan bergantian bersih-bersih badan di kamar mandi (horee! Akhirnya dapat mandi dengan cara yg lebih layak).  Meskipun kami sudah turun dari kapal, namun goyangan ombaknya masih terasa. Kadang-kadang gw suka merasa bergoyang-goyang seperti sedang terbawa ombak.
Agenda kami hari ini adalah beristirahat dan mencari angkutan untuk ke G.Kelimutu besok harinya, sama mencari hotel untuk Luca dan Samia. Sebenarnya Mbak Selly tidak keberatan bila Luca dan Samia beserta kami semua tidur di ruang keluarganya yang kira-kira 4x3 meter itu, tapi sepertinya Samia tidak mau. Luca pun mau tidak mau menuruti Samia untuk tidur di losmen. Mbak Selly dan Elis yang akan mencarikan losmen untuk mereka berdua nanti sore harinya.


masih bersambung...hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar