Jumat, 01 April 2011

Journey To The East (Cerita Perjalanan Backpacking Flores)

"Kenapa gak sekalian aja kita ke Pulau Komodo, Cky?"
Sms dari Philip beberapa minggu sebelum liburan semester membuat gw menjadi bimbang. Tapi emang dasar gw yang orangnya agak impulsif, tawaran tersebut langsung gw iyakan tanpa pikir panjang dengan segala kekurangan dan ketidaksiapan yang ada. Entah bagaimana gw juga gak tahu, dengan begitu saja gw membatalkan rencana awal perjalanan ke Pulau Sempu yang kira-kira lebih hemat biaya karena gw lagi nabung untuk perjalanan lainnya. Kayak "Call of The Wild" aja itu mah...
"Berangkaaat..."
Semenjak itu, gw mulai nyari informasi tentang perjalanan ke Pulau Komodo sebagai tujuan utama kami dan gw mulai menyusun beberapa rencana perjalanan juga menghitung budgetnya. 
Gw dan temen-temen berencana melalui jalur darat dengan melompat-lompati beberapa pulau sampai akhirnya ke Labuan Bajo dan Flores. Namun beberapa hari sebelum keberangkatan, Philip ngasih kabar kalo ada tiket kapal Pelni dengan harga IDR 250.000 dari Surabaya ke Bima. Setelah gw hitung, ternyata itu lebih murah ketimbang jalur darat yang harus melompat-lompat pulau, namun mungkin kekurangnannya adalah kita bakalan bosen banget di kapal karena perjalanan dari Surabaya ke Bima itu 3 hari 2 malam. Kita semakin bingung setelah tahu bahwa kapal Pelni tersebut hanya berangkat pada hari itu saja dalam bulan Januari, tepat sehari setelah hari keberangkatan dari Jogja yang telah kita rencanakan, 25 Januari 2011. Kapal akan beragkat dari Surabaya tanggal 26 Januari 2011 dan hanya ada hari itu saja dalam sebulan ini, setidaknya seminggu.
Setelah kami semua berembuk dan menimbang-nimbang (lu kira daging potong?!), akhirnya kita memutuskan untuk berangkat naik kapal Pelni dan pulang melalui jalur darat karena kita gakmau kehilangan kesempatan untuk memandangi pemandangan di pulau-pulau yang kita lewati.

Awalnya yang akan berangkat itu 7 orang, tapi H-1 jumlahnya berkurang menjadi tinggal 5 orang saja, yaitu Gw, Phillip, Kicol, Fuad dan Ucup. Semua personil adalah teman satu SMA dulunya dan teman satu Perhimpunan Penempuh Rimba & Pendaki Gunung Satya Soedirman, kecuali Ucup. Ucup adalah temannya Phillip di kampus arsitektur UGM, dia juga baru beli kamera underwater yang secara tidak langsung membuat posisinya sungguh sangat diperlukan dalam perjalanan kali ini, terutama kamera-nya. :)

Semua personil yang ikut mungkin saat itu sedang dalam posisi "jenuh" dan perlu penyegaran, makanya semua dipertemukan didalam satu perjalanan ini. Gw yang udah "jenuh" ngerjain tugas, kuliah dan tetek bengeknya, Philip & Ucup yang udah "jenuh" dengan sketsa-sketsa gambar dan ke-"jomblo"-an nya (hahahahaha), Fuad, yang udah "jenuh" dengan algoritma dan bahasa pemogramannya, dan juga Kicol yag sudah "jenuh" dengan dunia barunya juga pendidikan dasar di pecinta alam kampus.

Oke, lengkap sudah basa-basinya. Setelah ini akan gw ceritain agak detail tentang perjalanan kami mulai dari Yogyakarta - Ende, Flores - P. Komodo - dan kembali ke Yogyakarta lagi. Maka siapkan kopi dan makanan kecil, lalu nikmatilah!




Selasa, 25 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

How Are You, Sri Tanjung?!
Perjalanan diawali dengan menundukkan kepala kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT untuk meminta ridho-Nya serta memohon agar kami semua selalu diberikan kesehatan serta kekuatan dalam perjalanan ke Flores, dan terutama yang paling penting adalah agar kita semua dapat kembali kerumah masing-masing dengan selamat.

Kicol, Fuad, Gw, Philip, Ucup sesaat setelah berdoa
Dari kontrakan Philip, kami semua berangkat menuju Stasiun Lempuyangan diantar Dimas dengan mobilnya jam 06.30. Setengah jam kemudian kita sudah sampai di Stasiun Lempuyangan untuk berjumpa kembali dengan teman lama kami, SriTanjung. Berbeda dengan perjumpaan kami sebelumnya, kali ini kami tidak akan berlama-lama dengan SriTanjung sampai Banyuwangi, tapi kita hanya akan turun sampai Stasiun Gubeng Surabaya saja.

Seperti biasa, SriTanjung berangkat sesuai jadwalnya, tapi jam tibanya masih dipertanyakan, apakah akurat sesuai yg tertera di dalam tiket atau tidak. Kami semua ragu dengan itu. Tapi kita gak perlu kuatir, karena kapal yg akan kami naiki nanti dari Surabaya berangkat keesokan harinya pukul 6 sore. Jadi tidak perlu berburu-buru.
Beginilah suasana kereta kelas ekonomi di Indonesia, pedangan-pedagang mondar-mandor menjajakan dagangannya, kadang-kadang pengamen juga seliweran menghibur para penumpang, eh bencong juga gak mau kalah.  Kalo kereta lagi jalan, lumayan lah agak adem, tapi kalo kereta berenti, udah kayak didalam oven aja. Kerjaan di dalam kereta cuma tidur, ngobrol, makan, tidur lagi.
 Saat kami sampai di Stasiun Gubeng Surabaya gw terkagum sebentar karena SriTanjung bener-bener tepat jadwal kali ini. Gw juga sampe bertanya-tanya, malah SriTanjung sampai di Gubeng lebih tepat dari jadwal yg tertulis di dalam tiket. Seharusnya sampai pukul 14.00, tapi kami sudah sampai 5 menit sebelumnya, tepatnya 13.55 WIB (Gw bakalan pakai WIB terus sepanjang postingan ini yah).

Sampai di Stasiun Gubeng kami disambut hujan, dan kami masih belum tau mau ke pelabuhan naik apa dari stasiun. Yang kami tahu saat itu sudah masuk waktu dzuhur dan perut kami keroncongan semua karena baru diisi nasi pecel seharga 2500 rupiah saja dari pagi. Jadilah kami semua menunaikan kewajiban di musholla setempat, setelah itu keluar stasiun mencari makanan sekalian bertanya-tanya angkutan menuju pelabuhan.
Saat di pintu keluar gw udah diikutin sama beberapa calo kendaraan, dan yang paling getol ngikutinnya adalah satu orang mas-mas yang rela nungguin gw dan temen-temen makan. Gw berasa kayak diikutin penjahat aja.
Mas-mas tersebut nawarin kami kendaraan yg bisa ngankut kami ke pelabuhan Tanjung Perak. Awalnya dia nawarin harga 70ribu. Gw tolak mentah-mentah, tapi dia ngikutin terus sampe akhirnya dia menyerah dan kita deal dalam harga 45ribu. Jadi kalo dibagi 5 orang, seorang kena IDR 9000, gakpapalah lumayan.
Beres makan kita langsung naik mobil yg dijanjikan mas-mas tadi, mobilnya Avan*a, dan ber-AC, alhamdulillah...adem.... Tidak terlalu berpengaruh sih, karena diluar juga sedang hujan waktu itu, jadi makin adeeemmm...

Di jalan, kami ngobrol-ngobrol dengan pak sopirnya yang mengaku bahwa mobilnya ini adalah mobil sewaan. Dia sewa per-hari untuk dia kerjakan jadi taksi gelap kayak gini. Dia kayaknya udah terlatih banget , soalnya cara ngomong dan nyeritain tentang kota Surabaya yang sungguh bersih ini seperti orang-orang travel agent. 
 Dia juga berniat mau ngantar kami ke Dolly, hahahaha siapa yg gaktahu Dolly? itu lhooo tempat lokalisasi pling terkenal se-Surabaya, bahkan se-Asia Tenggara. Kami hanya menertawakan ajakannya saja, dan mobil terus melaju menembus hujan. Oiya, kami dijalan ditawarin sama si bapak supir untuk beli tiket di agen, dia bakal antar kami kesana, katanya harganya gak beda jauh ketimbang beli langsung ke pelabuhan. Yasudah, kita coba saja dulu...

Jam 15.30 kita sudah sampai di agen kapal laut yang dijanjikan si pak supir. Pak supir ini tampaknya seorang yang tidak jahat, dia baik sekali. Selama perjalanan dia sabar melayani kami dan menunggu kami saat anak-anak pada ngambil uang di ATM. Sampai di agen tiket kita juga ditungguin dan ditinggalin nomer HP-nya siapa tahu besok-besok kalo perlu kendaraan lagi tinggal ngehubugin dia. 
Setelah ngobrol-ngobrol dan ngebanding-bandingin harga juga menawar-nawar, kami akhirnya memutuskan untuk membeli tiket melalui agen saja. Dengan harga IDR 250.000 sampai Bima, padahal kalo beli langsung harganya bisa 230ribuan, cuma karena kapalnya berangkat besok, kita gaktahu mau nginep dimana sedangkan agen ini menyediakan penginapan gratis juga jasa antar sampai pelabuhan, jadi gakpapalah, itung2 20ribunya untuk biaya nginep dan anter sampe pelabuhan.

Setelah peengurusan administrasi selesai, kami semua langsung menuju lantai 2 dari ruko tempat agen itu berada. Bayangan gw sebelumnya tuh kami semua bakalan tidur di kasur atau apalah yag empuk-empuk, tapi ternyata tidak, disana itu seperti penampungan TKW, hanya ruangan sekitar 5x10 meter beralaskan karpet ditambah kipas angin yang tidak terlalu berpengaruh mengatasi hawa panas. Dan disana kami bakalan bermalam untuk menunggu pemberangkatan kapal besok sorenya. 
Disana  juga sudah terdapat beberapa penumpang lain yg akan berangkat dengan kapal laut, tapi entahlah mereka mau kemana kami tidak tahu. Tapi ketika gw pertama kali menginjak lantai tempat penampungan itu, hawa perjalanan sudah mulai terasa, entah bagaimana, mungkin karena orang-orang di penampungan itu bukan asli orang P.Jawa, jadi gw mendengar beberapa dialek yang kurang familiar yang membuat gw merasa bukan sedang dirumah sendiri. Perawakan wajahnya pun khas orang-orang timur banget, ngomongnya cepat gak pake rem, juga nyaring.

Kami langsung nge-"deploy"  lapak yang kosong untuk kami berlima dan barang-barang. Ada sekitar 3 rombongan di ruangan itu. Rombongan gw, rombongan yang gw bilang kayaknya orang-orang dari Indonesia Timur, juga ada rombongan yang gw gak tahu orang mana, soalnya suaranya jarang kedengeran, kalah dengan ibu-ibu dirombongan depan kami. 



Rabu, 26 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

"Maap ya..."
Kerjaan kami di penampungan cuma tidur, ngobrol,  ngemil, baca buku, makan, tidur lagi. Gitu aja terus sampai besok menjelang berangkat ke kapal. 
Oiya, di penampungan ini juga kadang-kadang suka ada pedagang-pedagan yg mampir untuk menjajakan dagangannya, ada yg jual sendal, maknan, kaos, dan lain-lain. Tapi, yg paling canggih dari pedagang-pedagang itu adalah orang yg satu ini, namanya gw rada lupa cuma dia cukup sering ke penampungan ini untuk menawari jasanya yaitu pijet dan terapi. Awalnya dia cuma dateng dan sok-sokan ngajak ngobrol gitu, gak lama kemudian dia ngomongin masalah kesehatan dan memberikan beberapa saran agar para penumpang yg akan melakukan perjalanan jauh dengan kapal tetap sehat dan enak badannya. Pada saat itu, sebenernya gw gak terlalu merhatiin dia, gw lagi serius baca buku, tapi karena gw memmang lg diserang flu waktu itu, gw kadang-kadang suka bersin dan agak sulit bernafas karena hidung mampet. Nah, pada saat gw menarik  napas, dan terdengar suara seperti terompet gitu dari hidung gw, si orang tadi dengan cepat langsung nyamber dan menanyakan, "Udah berapa hari mas, flunya? Hati-hati mas, mau perjalanan jauh. Maap ya, ini kalo kondisi badan kurang fit nanti di kapal kasian mas". Gw jawab aja kata-katanya sekenanya, eh dia malah nyamperin gw, "Kalo diijinkan mas, maap, nanti saya buka auranya bla..bla..bla.. saya keluarkan racun-racun yg ada di dalam tubuh yg mengganggu..bla...bla..bla..biar nanti insya Allah badan mas kembali sehat.". Gw yg emang pada waktu itu udah bingung mau minum obat apalagi supaya pilek gw ilang diem-diem tertarik oeh ajakan orang ini. Padahal gw belum minta untuk diobatin tapi ini orang udah siap-siap aja sama alat-alatnya. Gw jadi semakin terajak, dan akhirnya dia ngomong, "Saya udah sering mas disini, itu ibu yg diseberang sana saya yg obatin dulu waktu kakinya kecelakaan. Ini maap aja ya, daripada nanti mas dijalan malah semaki parah sakitnya, badan gak enak gini, mending sekarang saya buka dan keluarkan racun-racun yg ada didalam bla..bla...bla... sampai Insya Allah badan kembali fit. Beres itu, mas boleh mahar berapa aja terserah, maap, biasanya yaaa 3 bungkus rokok 25/20 ribu untuk mahar." Setelah itu dia langsung nyuruh gw balik badan dan buka baju. Terus gw dipijet dan dikerokin gitu. Dia bilang macem-macem ini itulah, gw katanya suka mandi malemlah, gak pernah olahraga lah. Terus di juga nyaranin macem-macem, dan di setiap kalimatnya dia selalu menyelipkan kata maap, padahal dia gak salah apa-apa. Jadilah itu aja yg paling gw inget dari dia. Anak-anak pada ngeliatin gw kesakitan di bekam. Ini pertama kalinya gw di bekam dan ternyata lumayan sakit.
Macem-macem deh itu terapinya sampe pake setrum segala. Tapi beres-beres badan gw lebih enakan memang, dan seagai terimakasih gw kasih aja yg dia bilang mahar tadi, 3 bungkus rokok dalam bentuk mentahnya.

Teman Baru
Dari hari sebelumnya jam setengah 4 sampai jam setengah lima hari ini, kami luntang-lantung gak produktif di dalam penampungan, selama itu juga kami belum ngobrol sama orang-orang disekitar kami. Namun, beberapa jam sebelum berangkat ke pelabuhan, gw mendengar percakapan si ibu-ibu yg bersuara keras di depan kami saat menelpon seseorang. Gw mendengar sekelibat tentang cuaca buruk dan tertundanya kapal yg akan berangkat ke Flores. Gw langsung mendadak panik, karena memang hal ini yg paling gw waspadain dalam perjalanan kali ini, cuaca. Lalu gw utuk pertama kalinya bertanya ke ibu tersebut. Ternyata tidak terjadi apa-apa, dia hanya menginformasikan kepada temannya kalau tidak ada kapal yang ditunda. Ternyata gw salah denger lah intinya.
Tapi dari percakapan tersebut, kita jadi berbicara banyak dengan sekelompok orang yang pada akhirnya kami ketahui bahwa mereka juga naik kapal yg sama dengan kami, namun tujuan mereka adalah kota Ende, FLores, sedangkan kami akan berhenti di Bima, Sumbawa.
Nama ibu itu adalah ibu yanti yang belakangan kami tahu adalah penyalur tenaga kerja dari Flores, dia mengaku sudah 7 tahun bolak-balik Flores-Jakarta hanya mengurusi tenaga kerja dari Flores yang akan kerja di Jakarta atau tempat2 lainnya. Dia juga memberi tahu kami transportasi apa saja yang bisa kami naiki untuk menuju tujuan kami yaitu Pulau Komodo. Sayangnya, ibu Yanti tidak bisa ikut kami karena dia harus menjemput anak buahnya di Jakarta, dia hanya memberi nomer telponnya saja kalau kami mau menanyakan sesuatu tentang Flores & sekitarnya. Ibu Yanti dari Jakarta membawa 4 anak buah, dan salah 2nya bakalan satu kapal dengan kami, yaitu Mbak Selly dan Elis. Jadi kita bakalan bareng mereka terus didalam kapal, dan beruntungnya, mereka mengajak kami untuk mampir ke tempat tinggalnya di kota Ende dan menyarankan kami untuk juga pergi ke Kelimutu (sesuatu diluar rencana kami). Kami semua hanya tersenyum kegirangan mendengar itu semua, tapi maslaahnya adalah tiket kita hanya samapai kota Bima, sedangkan mbak Selly dan Elis turun di Kota Ende. Kami bertanya ke agen apakah kami masih bisa mengubah tiketnya atau tidak, namun mereka tidak bisa. Ibu Yanti yang seakan-akan seperti seorang pahlawan waktu itu menyarankan kami agar me-lobi ABK(Anak Buah Kapal) saat di perjalanan agar bisa turun di Ende dengan tiket hanya sampai kota Bima, kami menuruti saran tersebut. Jadi sperubahan rencana ini semuanya tergantung oleh berhasil atau tidaknya negosiasi kami dengan pihak ABK di kapal nanti. Andai berhasil, kami akan pergi ke Ende dulu dan mengunjungi Danau Kelimutu, lalu ke Labuan Bajo dan P.Komodo. Namun sebaliknya, kami akan sesuai dengan rencana awal, Bima - Labuan Bajo - P.Komodo.

KM Awu (Rumah Sementara)
Sekitar jam setengah 5 pihak agen menyuruh kami dan calon penumpang kapal Awu lainnya untuk turun dan bersiap-siap menuju pelabuhan. Kami pun semua turun, ibu Yanti juga ikut karena dia akan diantar ke bandara untuk bernagkat kembali ke Jakarta.
didepan agen tiket
Tepat jam 5 sore kami semua diantar oleh mobil carry kurang mewah yang dijejali manusia serta barang-barang sampai over-capacity menuju pelabuha Tjg. Perak Surabaya. Tidak lama hanya 15 menit kami sudah sampai di pelabuhan Tanjung Perak. Kami semua berpisah dengan Ibu Yanti dan 1 anak buahnya yg gw lupa namanya. Kami langsung check in serta berusaha untuk tidak kehilangan jejak Mbak Selly dan Elis. Namun kami cukup takjub ketika melihat kapal-kapal besar yang sedang bersandar di pelabuhan. "Damn, it's gonna be our home for a couple days later!". Kapal Awu berada tepat di depan kami, panjangnya mungkin sekitar 40-60 meter, dengan kapasitas penumpang 900 orang kurang lebih. Gw belum pernah naik kapal sebesar ini sebelumnya, dan gw sangat excited sekali...
Sebelum naik KM Awu
Ketika masuk ke dalam kapal, kami sempat bingung mau duduk dimana, apalagi ngeliat penumpangnya  sebagian besar orang timur yang berkulit hitam, dengan bentuk wajah yang keras, pokoknya stereotype gw waktu itu adalah orang-orang yang galak, dan gw harus menjaga sikap dan gak boleh asal macem-macem secara ini daerah mereka, gw cuma pendatang.
Kami langsung menempati tempat yang kosong dan cukup untuk 5 orang. Jadi tempat penumpang di kelas ekonomi KM Awu tuh hanya tepat tidur yang datar dari papan seperti di asrama gitu, dan itu ada beberapa baris di dalam 3 dek kapal kelas ekonomi. Setiap dek memiliki 4 ruangan kamar mandi dengan 4 sekat (2 untuk kloset, 2 untuk shower). Jangan bayangkan shower yang biasa ada dirumah kalian semua, karena shower di kapal ini begitu beda. Baunya pun seperti kamar mandi di pasar-pasar, pesing dan gak ada orang yang peduli untuk nyiram.

Kami masih beradapatasi dan melihat-lihat suasana sekitar kapal saat kapal masih menunggu sesuatu agar bisa berangkat. Kami menunggu lama sekali sampai akhirnya kapal baru berangkat jam 19.45, artinya udah ngaret dari jadwal yang dijanjikan 1 setengah jam lebih (18.00). Dan dengan ini, perjalanan kami berlanjut setelah luntang-lantung tidak produktif di dalam penampungan(travel agent). Meskipun di dalam kapal pun kerjaan kami juga cuma makan tidur dan ngobrol-ngobrol, tapi setidaknya lebih banyak orang yang bisa diajak ngobrol, dan orang-orang di dalam kapal ini lah yang bakal bareng-bareng dengan kami selama beberapa hari kedepan.

Kami makan malam pertama di kapal dengan membeli nasi ayam yg harganya cukup mahal, 12 ribu rupiah. Kami beli makanan di kantin karena jatah makan penumpang baru dihitung mulai besok paginya. Jadi setiap penumpang yang membeli tiket kapal itu mendapatkan makanan gratis dari kapal 3 x sehari, lumayan bukan? tapi tunggu dulu...sampai gw ceritain bagaimana makanan 3 x sehari yg sudah termasuk dengan harga tiket tersebut.
first dinner @ KM Awu
Untungnya teman-teman perjalanan gw tidak terlalu mengeluh diajak naik kendaraan kelas ekonomi begini, mungkin karena rata-rata semua adalah pendaki gunung yg sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Coba aja kalo ajak anak yg manja dikit, gimana ceritanya coba kalo tiba-tiba dia ngeluh minta pulang karena gak kuat dengan kamar mandinya yg baunya lebih bau dari kotorannya sendiri???
Malam pertama di kapal ini benar-benar waktu kami untuk beradaptasi dengan suasana di kapal. 1 baris dengan rombongan kami, ada seorang nenek berkisar 67tahunan yang hendak pulang ke Ende dari Surabaya, kami pun berbincang dengannya dan sekali lagi, kami ditawari lagi untuk mampir dan tinggal dirumahnya selama di Ende bila hendak menuju Danau Kelimutu. Tapi kami menceritakan bahwa kami sudah akan ditampung oleh Mbak Selly dirumahnya, dan nenek yang akhirnya kami panggil "Oma" itu pun mengerti. Dari sini gw sudah mulai merasa bahwa ternyata orang-orang Flores ini banyak juga yang baik-baik, meskipun kalo ngomog suaranya cepat dan lantang bak halilintar.

Di depan rombongan kami, seorang pemuda arab yang sangat supel mengenalkan dirinya dengan nama "Ading", dia adalah pedagang parfum yang hendak pergi ke Waingapu, Sumba, untuk menjual barang dagangannya tersebut. Meskipun orangnya supel dan gampang untuk bersosialisasi dengan semua orang, gw tetep jaga jarak dengan dia dan tetep waspada denga orang-orang yg baru kita kenal.

Nah di belakang rombongan kami ada 3 orang dari LSM Ibu Foundation yang tampangnya sangar-sangar. Namanya Hamdan, dia bersama abangnya yang lebih mirip penembak dari Palestina dan juga istrinya. Mereka dalam perjalanan ke Waingapu untuk mengajar anak-anak kecil disana. Kami belom terlalu kenal dengan mereka pada saat itu.



Mbak Selly ini rencananya akan membuka salon di Ende, dia membeli perlengkapa untuk salon tersebut di Surabaya dan turut membawanya pulang naik kapal. Jadi kami bakal bantu-bantu Mbak Selly untuk ngankat-ngangkat perlengkapan tersebut bila kami berhasil melobi ABK untuk menukar tiket kami agar sampai di Ende. Namun kami masih belum berani untuk mencari ABK yang bisa kami lobi tersebut. 

Bersambung .... 


Journey To The East (part 2)
Journey To The East (part 3)

4 komentar:

  1. ayo ki lanjutin! haha gila, cadas banget lu udah sampe flores aja.. fotonya jangan lupa ya ki hoho

    BalasHapus
  2. orang gila. sadis lu ki. ahahaha ita mah tetep di gunung aja lah ahaha

    BalasHapus
  3. apasih pada bilang gila gini..gw masih waras ah..hhe
    iya sabar ye dis...syiibuk negh!
    naek gunung mah ttep gar

    BalasHapus
  4. keren! baru ngeh kalau ke flores bisa naik kapal dari surabaya :D

    BalasHapus