Journey To The East (Cerita Perjalanan Backpacking Flores) - 3

Sebelumnya, mohon maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman yg berulang-ulang menagih lanjutan cerita ini. Maklum, blogger amatiran kayak gini nulisnya tergantung mood dan situasi. Hehehe... Tapi janji tetaplah janji, jurnal ini akan tetap gw selesaikan sampai kapanpun itu.
Baiklah, tidak usah berlama-lama. Mudah-mudahan masih antusias dan bersemangat. Jangan lupa kopi dan kudapannya. Enjoy!


Sambungan dari :
Journey To The East (part 1)
Journey To The East (part 2)



Philip dan teman-teman barunya

Seharian penuh kami manfaatkan untuk beristirahat dan mengakrabkan diri dengan orang-orang dirumah Mbak Selly. Mereka adalah keluarga besar dengan banyak sekali anak-anak seumuran SD dirumahnya. Kami pun berkenalan dengan bapak Stefanus, kakaknya Mbak Selly yang akan membantu kami mencarikan mobil sewa untuk ke G.Kelimutu besok harinya. Bapak Stefanus adalah seorang sopir “Oto” alias sopir truk yang sudah terbiasa berkendara bolak-balik Ende – Labuan Bajo. Dia bilang bahwa perjalanan dari Ende ke Labuan Bajo sangat memakan waktu yg lama, bisa sampai 12 jam lebih dan medannya sungguh sulit. Akhirnya saat malam tiba kami dapat kabar bahwa mobilnya sudah dapat dan akan menjemput kami besok hari jam 05.00 pagi dengan harga IDR 300.000 untuk seharian mereka antar kami lagi ke tempatnya Mbak Selly.



Kami sungguh dijamu dengan baik oleh keluarga Mbak Selly, meskipun ruangannya tidak terlalu besar tapi dengan berkumpulnya kami semua di dalam ruangan tersebut sambil makan malam, nonton TV dan berbincang serta bercanda-canda, membuat suasana tersebut menjadi mahal harganya. Mereka memang orang-orang yang baik, berbeda dari perkiraan Gw sebelumnya, pepatah “Don’t Judge The Book by It’s Cover” memang benar kiranya. Kami pun lekas menutup hari ini agar bisa bangun pagi esoknya. Luca dan Samia pun diantar ke hotel oleh Elis dan Mbak Selly. Mereka pasti sangat menyesal tidak menginap di rumah Mbak Selly.
Kami sedang membantu Mbak Selly untuk merakit peralatan salon



Senin, 31 Januari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Danau Tiga Warna
Subuh sekali pukul 03.45 kami sudah bangun untuk sholat subuh dan siap-siap berangkat. Kakaknya Mbak Selly juga sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk kami sebelum berangkat. Kami sarapan bersama, dan ternyata mobil sewaan bersama sopirnya sudah datang. Kami pun bergegas masuk ke mobil itu setelah sarapan. Hanya Mbak Selly yang ikut kami ke G. Kelimutu, sedangkan Elis harus menjaga anaknya. Kami awalnya bertanya-tanya kenapa supirnya ada 2 orang segala, padahal kalo sopirya 2 orang akan membuat muatan mobil berlebih dan memuat ruangan mejadi sesak, total menjadi 9 orang dalam satu mobil Avanza yang kapasitas standarnya saja 8 paling mentok. Tapi si sopir bilang da meyakinkan kami bahwa kami semua dapat masuk. Yasudah kami biarkan dna kami langsung bergegas ke hotel tempat Samia dan Luca berada di Kota Ende. Ternyata Luca belum bangun padahal hari sudah mulai terang. Kami memang tidak terlalu berharap untuk melihat matahari terbit, sampai di puncak G. Kelimutu dan melihat danau nya saja sudah bersyukur bagi Gw pribadi.

Setelah kami bangunkan, Luca dan Samia meminta waktu sebentar untuk bersiap-siap. Setelah itu, kami semua lengkap dan siap utk berangkat, tapi Luca dan Samia protes dan menayakan hal yang sama seperti yang Gw tanyakan sebelumnya tentang supirnya yang tidak seperlunya 2 orang. Setelah berdebat panjang, Sopir satu lagi bilang bahwa dia akan turun nanti di suatu tempat. Gw gaktau maksudnya apa, yasudahlah. Akhirnya kami berangkat…

Kabut dan udara segar menamani perjalanan ke G. Kelimutu
Perjalanan ke G. Kelimutu dari kota Ende menempuh 2-3 jam perjalanan dengan lansekap lembah dan bukit-bukit yang masih hijau dan udara bersih di pagi hari. Gw merasa seperti di suatu tempat yang pernah gw kenal, tapi sebenarnya gw baru pertama kali menginjakan kaki Gw ke tempat itu. Tempat yang selalu gw idam-idamkan, yang cuma bisa gw liat di TV atau di kartu pos sejak Gw kecil. Subhanallah… Indonesia ini memang indah, setidaknya di bagian yang mata gw lihat pada waktu itu. Dan pemandangan tersebut menemani perjalanan kami sampai di pos pertama gerbang masuk Taman Nasional Gunung Kelimutu.
Jam 07.35 kami sampai di gerbang masuk Taman Nasional Gunung Kelimutu yang dijaga oleh beberapa polisi hutan, dan suasana disana cukup berkabut. Retribusinya hanya IDR 2500 per orang lokal, Gw lupa untuk yang wisatawan mancanegara. Tapi pada saat Gw berkunjung kesana memang hanya rombongankami yang sedang berkunjung, kami tidak melihat rombongan lainnya, jadi suasana terlihat agak sepi. Polisi hutan yang menyambut kami pun sungguh baik dan terlihat tidak ingin memdapatkan sesuatu yang bukan haknya. Gw rasa gw mulai jatuh cita dengan daerah ini.
Trekking santai ke puncak G. Kelimutu
Setelah administrasinya beres, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil sampai pos dimana kami akan mulai untuk mendaki sampai puncak. Tidak lama dari pos gerbang masuk, sekitar 15 menit. Cuaca sepertinya mendukung kami, cukup cerah. Kami tidak melihat seorang pun disini kecuali pedagang oleh-oleh dan minuman yang sedang tertidur kedinginan. Kami melewati mereka dan bersiap langsung trekking menuju puncak. Jalur pendakiannya sangat jelas bahkan ada sebagian yang bertangga-tangga dan tidak terlalu curam, 40 menit jalan santai kami sudah mecapai puncaknya dan langsung melihat salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia. Subhanallah… entah apa lagi yang bisa Gw ungkapkan selain rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan ini semua dan megizinkan Gw untuk melihatnya. 
Lagi tawar menawar harga kain tenun
Danau 3 warna yang dulu hanya bisa Gw liat di uang pecahan 5000 rupiah sekarang ada di depan mata gw, dan itu lebih indah dari yang di dalam gambar ataupun yang orang-orang bicarakan. Gw berdiri tepat di puncak G. Kelimutu dimana bisa melihat langsung 360 derajat pemandangan Taman Nasional Gunung Kelimutu dan 3 danaunya yang memiliki warna yang berbeda-beda. Saat itu danaunya berwarna hijau tosca, biru dan hitam. Danau-danau itu dapat berubah-ubah warnanya. Menurut mitos, arwah-arwah yang mati akan bersemayam di 3 danau tersebut.

Setelah puas menikmati keajaiban Danau Kelimutu, kami bergegas turun karena memang cuaca juga beranjak mendung. Tepat saat kami sampai di parkiran mobil, kami disiram gerimis. Kasian melihat pedagang oleh-oleh yang sepi pembeli, kami pun membeli beberapa selendang tenun yang dijual oleh pedagang tersebut seharga Rp. 50.000 per satuannya. Cukup mahal memang. Yah, itung-itung sebagai kenang-kenangan juga menghibur si pedagang yang murung karena sepi pembeli, ditambah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras. Kabut juga menyelimuti perjalanan kami turun ke kota. Entah bagaimana nasib 2 orang turis asing yang baru saja mendaki hujan-hujanan saat kami hendak turun dari parkiran mobil.
Pemandangan dari puncak G. Kelimutu


Perpisahan III
Alhamdulillah janji kami kepada Oma untuk berkunjung ke rumahnya di Ende kesampaian juga. Jam 15.45 sore kami berkunjung ke rumah Oma dan bertemu sanak familinya. Mereka orang-orang yang ramah sekali, dan tampaknya Oma sudah bercerita tentang rencana kehadiran kami kepada sanak familinya sebelum kami datang, jadi kami sangat disambut hangat oleh anak-anak Oma di sana. Pisang goreng dan secangkir teh kala itu terasa sangat nikmat sekali karena dinikmati bersama canda tawa ceria yang menguap di dalam obrolan kita bersama. Yang wanita semua ikut ke dapur untuk menyiapkan makanan, tidak terkecuali Samia dan Mbak Sally. Seisi rumah tampak terkejut melihat rumahnya kemasukan 2 orang bule yang sangat asing di mata mereka. Oma selalu, memperlihatkan koleksi album foto keluarganya. Dia memang orang yang sangat mencintai keluarganya, istilahnya family woman (opotoh?).

Oma yg pakai baju merah muda di tengah kami
Tak terasa matahari sudah semakin bergeilincir ke arah barat, kami berpamitan pulang sekaligus pamit untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Oma terlihat sedih meskipun kami sudah berkesempatan hadir mengunjungi rumahnya. “Kapan-kapan harus kesini lagi ya nak…”, pesan Oma. Kami pun keluar rumah dan mengambil gambar untuk kenang-kenangan sebelum perpisahan ini. Setiap pertemuan, selalu ada perpisahan, Begitulah hukum alamnya bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, waktu pun tidak berkutik! Sedih pasti, tapi perjalanan harus tetap berlangsung, rencana harus tetap terlaksana. “Sampai jumpa , Oma… Semoga amal kebaikan Oma dan keluarga dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda…”


Little Farewell Party
Luca & Samia action
Malamnya kami membicarakan untuk perjalanan besok hari menuju Labuan Bajo. Supir yang akan mengantar kami besok sudah datang untuk bernegosiasi masalah harga dan tempat-tempat yg kemungkinan bisa kita kunjungi dalam rute menuju Labuan Bajo tersebut. Setelah berdiskusi panjang dan bernegosiasi, akhirnya kita sepakat masalah harga. IDR 1.400.000 untuk bertujuh sampai Labuan Bajo. Kita janjian jam 06 pagi besok harinya.

Setelah itu, makanan untuk makan malam sudah siap. Kami langsung menyantapnya bersama-sama. Saat itu, semua keluarga berkumpul untuk makan malam bersama kami. Karena ini mungkin makan malam terakhir kami di rumah itu. Sungguh sungguh sungguh hangat sekali suasana saat itu. Hanya tahu, tempe dan telur, tapi gw rela bayar berapapun untuk makan malam saat itu. Sampai gw nulis ini, gw masih rindu akan momen momen romantis itu T_T. Kami saling bertukar alamat agar hubungan kami tetap terjaga dengan keluarga di Ende ini. Yah, sekali lagi waktu yang harus mengakhiri semuanya. Kita semua beranjak ke alam mimpi masing2 dan kehangatan hari ini.

How i miss this moment!



Selasa, 1 Februari 2011
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Happy Birthday, Arcky!
Bangun tidur gw udah dikasih ucapan selamat aja sama anak-anak. Utung aja gak ada surprise atau “penyiksaan” dan semacamnya. Setiap hari ulang tahun sih sebenrnya gw merasa biasa aja. Gw gak terlalu mikirin masalah kado atau surprise. Tapi yg paling penting bagi gw adalah “apa saja yg sudah lu lakukan selama ini, Cky?”. Umur udah kepala dua, yg pasti udah harus semakin dewasa dan harus menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya. Yaah… Perjalanan ini sudah cukup gw jadikan kado ulangtahun gw saat itu.

Kami semua bersiap untuk pamit semua, karena hari itu adalah hari terakhir kami di rumah itu. Keluarga Mbak Selly masih sempet2nya nyiapin kita sarapan, padahal mobil yg mau nganter kami udah siap di depan. Rejeki tidak boleh di tolak. Lepas sarapan, kami pamit ke semua orang seisi rumah, berterimakasih atas kebaikan-kebaikannya selama kami disana. Gw berharap suatu saat bisa bertemu mereka kembali dan bisa membalas semua kebaikan-kebaikan mereka. Mbak Selly menemani kami sampai kami naik mobil. Sampai jumpa, Ende dan segala keramahanmu. Udara pagi yang sejuk pun mengiringi kepergian kami meninggalkan kota kecil nan lugu ini.

Bapak Stefanus bilang perjalanan dari Ende ke Labuan Bajo memakan waktu sekitar 12-15jam. Itu artinya sama seperti perjalanan antara Jakarta-Jogjakarta dengan bus. Tapi selama perjalanan itu kami akan diantar bapak supir ke beberapa tempat menarik yang tidak jauh dari rute perjalanan kami. Jadi mungkin sampai Labuan Bajo agak malam. Jelas ini bakal terlihat sangat melelahkan. Seperti tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh selama perjalanan. Soalnya kami udah berleyeh-leyeh ria selama di kapal dan penampungan. Jadi sebenrnya kami hanya punya waktu sedikit untuk menjelajah Flores yg cukup besar itu. Karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan selama di Flores, kami pun menikmati setengah pulau Flores dalam waktu sehari ini. Karena tidak ada waktu lagi untuk menikmatinya. Yang dirumah sudah merengek-rengek minta Gw untuk pulang…hehehehe you know what lah…

Green Stone
Perhentian pertama kami adalah di Pantai Penggajawa yang hanya berjarak sekitar 40 menit dari kota Ende. Terletak di sebelah selatan pulau Flores. Pantai Penggajawa memiliki hal unik yang menjadikannya salah satu tempat wisata di Flores ini. Batu-batu yang berwarna hijau terdampar di pantai banyak sekali entah darimana. Padahal di sekitar situ tidak ada tebing berwarna hijau. Orang-orang bilang batu-batu ini berasal dari laut. Mereka memanfaatkan batu-batu ini untuk dijual sampai ke China. Di China batu-batu ini dibuat menjadi ukiran seperti patung gitu. Gw juga belum pernah melihat hasilnya sih. Tapi batu-batu ini memang aneh. Warna hijaunya itu alami, bukan karena dicat atau diapakan gitu. Bentuknya juga mulus mulus seperti batu kali yang menandakan kalau batu-batu ini bukan berasal dari pecahan sesuatu.
Fuad di pantai Penggajawa dengan batuan hijau itu
Setelah cukup untuk menikmati Pantai Penggajawa, kami melanjutkan perjalanan kembali. Selama perjalanan Gw melihat rumah-rumah orang Flores. Mereka menggunakan parabola untuk menonton siaran televisi karena antena biasa gak akan bisa nangkep frekuensi siaran lokal. Mungkin karena tower pemancarnya belum ada kali yah...gw gak begitu ngerti sih masalah antena-antenaan. Hal lain yang gw perhatikan adalah angkutan kota di kota Ende ini yang gaul-gaul abis. Kudu make soundsystem!


Kampung Tradisional Wogo
Sekitar 2 jam perjalanan kita sampai di Kampung Wogo kecamatan Golewa. Desa ini merupakan desa tradisional yang masih bertahan dan dipertahankan oleh pemerintah daerahnya. Bangunan dan rumahnya terbuat dari kayu dan bambu. Mereka menyebut rumah adat mereka Soli Molo

Saat kami datang, hanya kamilah wisatawa yg sedang berkunjung. Kami langsung disambut oleh salah seorang penduduk disana yang langsung mengajak kami bertemu dengan penduduk2 lainnya yang sedang berbincag-bincang di teras rumah. Kami ngobrol-ngobrol sebentar dan diajak berkeliling sambil dijelaskan apa-apa yang ingin kami ketahui. Gw selalu senang membuat suatu percakapan dengan orang-orang baru yg ramah. Ngobrol dengan mereka seperti membaca buku, setiap orang di setiap daerah yg berbeda-beda memiliki cover dan isi masing-masing yang kadang-kadang gampang untuk dicerna, kadang-kadang juga sulit untuk dicerna.

Suasana di Desa Wogo
Ada 9 suku yang tinggal di kampung Wogo. Kami juga diperbolehkan untuk masuk meliha-lihat rumah mereka yg hanya berisi ruang keluarga dan dapur saja. Saat kami berkunjung ke salah satu rumah, kami bertemu dengan seorang ibu yang sungguh faseh/jago/hebat/lancar berbahasa Inggris. Karena kita bawa Luca dan Samia, ibu tersebut langsung menjelaskan tentang bagian-bagian rumah menggunakan bahasa Inggris tanpa gagap sama sekali kepada kami. Gw cuma bisa nganga' sambil iler keluar dikit. Si Ibu yang gw lupa namanya ini mengaku kalau bahasa Inggrisnya ini dia dapat karena seringnya wisatawan asing yg berkunjung ke desa Wogo, bahkan sampai bermalam dan mengikuti aktifitas-aktifitas warga sekitar. Jadi si ibu ini belajar bahasa Inggris secara otodidak dengan metode 'learning by doing'. Keren bukan?!

Si ibu itu pun mengajak kami ke situs megalitikum yang tidak lain adalah lokasi asli dari desa Wogo sebelum dipindahkan. Jaraknya sekitar 100 meter dari desa yg sekarang. Kami gak terlalu lama disana soalnya cuaca mulai kurang mendukung dan gerimis mulai turun. Kami langsung beranjak ke mobil dan sekalian pamit dengan orang-orang desa. Kami lalu melanjutkan perjalanan kembali...

Gw, Fuad, Philip, Kicol, Luca, dan Ibu-jago-bahasa-Inggris
Tidak terasa hari sudah beranjak siang. Nasi dan tahu tadi pagi sudah tidak kuat lagi menahan lapar kami. Kami pun berhenti sejenak untuk istirahat di salah satu rumah makan di pinggir pantai. Dan gw baru sadar kalau pada saat itu adalah pertama kalinya gw mengeluarkan uang untuk membeli makanan selama di Flores. Huahahahaha.... karena 2 hari sebelumnya saat makan selalu disiapin sama keluarga di Ende. Jadi malu nyusahin orang mulu...
Luca dan Samia mengaku kalau mereka adalah vegetarian. Pas kita ajak makan di tempat makan semacam rumah makan Padang, mereka cuma ngambil nasi, daun singkong dibanjur kuah gulai dan bumbu rendang. Tapi mereka tidak vegetarian amat, palingan cuma semingu sekali makan daging. Dagingnya juga daging ikan, bukan daging sapi atau ayam. Mereka bilang sangat menyukai makanan2 di Indonesia, favoritnya adalah gado-gado, mix vegetable with peanut sauce. Delicious!




The Wine Laboratory
Bapak itu sedang menceritakan proses
Sopi/Moke dibuat
Setelah mengisi perut dan beristirahat sebentar, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali ke arah barat. Pak supir sudah mengisi amunisi dengan minum kopi biar gak ngantuk. 15 menit jalan, kami sudah sampai di pemberhentian berikutnya. Sebuah tempat peracikan minuman khas Flores di Aimere. Aimere memang terkenal akan minuman khas ini yang mereka sebut 'Sopi'. Dibuat dari fermentasi buah lontar/enau yang pohonnya tertanam subur di sepanjang jalan selama kita melintasi Aimere. Kami berhenti di salah satu "wine laboratory" yang bertebaran di sepanjang jalan. Bertemu dengan sang pemilik yang ramah, yang tanpa pamrih menjelaskan berbagai jenis Sopi yang dia buat dan bagaimana cara membuatnya. Kami mengamati alat tradisional yang terbuat dari bambu namun canggih itu. Getah yg berasal dari pohon lontar dimasak, lalu uapnya lah yang nantinya akan menjadi minuman tradisional ini. Ada beberapa kelas kualitas dari Sopi ini, semakin bening warnanya akan semakin tinggi kadar alkoholnya, tentunya harganya juga semakin mahal, itu semua tergantung dari berapa kali penyulingannya. Mereka memasukkannya ke dalam botol air minum mineral dan menjualnya dengan harga 10.000 sampai 15.000 per botol berukuran 600ml. Kami pun diizinkan mencobanya. Luca memberikan segelas Sopi khusus untuk gw sebagai hadiah ulang tahun. Wow! rasanya seperti bensin! very strong. Orang-orang langsung ketawa melihat muka gw setelah minum sopi. Pantas saja orang-orang Flores menyebutnya "BM" alias 'Bakar Menyala', karena memang akan terbakar kalu disambar dengan api.
The Wine Laboratory
Konon Sopi ini hanya legal di wilayah Flores saja. Minuman ini selalu menjadi pembuka di setiap pertemuan-pertemuan orang Flores. "Supaya tidak ada yg ditutup-tutupi..", kata bapak penjual Sopi ini. Ada juga yang bilang kalau minuman ini biasa dijadikan hadiah untuk tuan rumah yang sedang dikunjungi.
Hasil olahan dari pohon lontar/enau tadi tidak hanya Sopi, namun ada juga cairan manis seperti gula merah yang katanya bisa menaha lapar selaa seharian kalau kita meminum/memakannya 1 sendok saja. Harganya lebih mahal dari Sopi, 20.000 per botol. Kami beli satu untuk oleh2 di perjalanan nanti, siapa tau berguna. Sedangkan Luca membeli 2 botol Sopi dengan kelas paling tinggi. Setelah itu, kami langsung berpamitan dengan pemilik wine laboratory dan melanjutkan perjalanan kembali.


The Hidden Place Ranamese
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali mulai memasuki bukit dan hutan belantara yang masih asri. Pepohonan hijau di sekeliling selama perjalanan kami. Saat itu, gw merasa entah dimana, jauh dari rumah, jauh dari informasi2 terkini, jauh dari politik2 di televisi. Tapi justru itu yg mebuat hati gw nyaman.. entah kenapa...

Kurang lebih 2 setengah jam berikutnya kita sudah sampai ke tujuan berikutnya. Jam di tangan menunjukkan pukul 17.03 dan langit pun tidak seterang biasanya, mendung menyelimuti kami semua. Tapi itu tidak mengurangi keindahan Danau Ranamese yg kami nikmati dari puncak bukit tempat mobil kami berhenti. Danau ini terlihat sangat tenang dan dingin diantara hijau hutan belantara yang mengelilinginya. Kabut tipis yg menyelimuti pun menambah kesan alami daerah ini. Cocok untuk tempat melarikan diri dari bosannya rutinitas dan polusi udara di kota-kota besar.
Danau Ranamese. Quiet & Stunning
Kami hanya sebentar disini, mengambil beberapa gambar, menenangkan pikiran dan bersyukur kepada Yang Maha Besar. Kami tidak sempat turun ke bawah untuk sekedar mencicipi air danaunya karena waktu kami terbatas dan hari sudah semakin gelap, sedangkan perjalanan kami menuju Labuan Bajo masih cukup jauh. Setelah selesai menunggu Ucup yang selesai buang air besar, perjalanan kami lanjutkan kembali.


Epic The Driver Is Epic
Danau Ranamese adalah lokasi kunjungan terakhir kami sebelum Labuan Bajo. Jadi perjalanan selanjutnya tidak akan ada pemberhentian kecuali untuk istirahat makan malam. Gw tidak memperhatikan perjalanan selepas matahari terbenam, kami semua tertidur lelah di mobil. Tau-tau bangun kami sudah sampai di Ruteng untuk istirahat makan malam. Saat itu kira-kira jam 20.00 kami berhenti makan di salah satu rumah makan di kota Ruteng. Kami sungguh lelah saat itu, badan semua pegal pegal akibat guncangan selama perjalanan memasuki kota Ruteng. Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Sesaat setelah meninggalkan Ranamese

Nah, perjalanan selanjutnya ini yg mau gw ceritakan. Jalan aspal berliku-liku menaiki bukit, tanpa penerangan sama sekali. Ditambah kabut tebal. Penerangan hanya berasal dari lampu mobil dengan jarak pandang maksimal 2 meter ke depan. Can you imagine that situation? Untungnya supir kami orang hebat yg sudah biasa bolak-balik Ende-Labuan Bajo. Tapi gw gak bisa bayangin kalo rencana awal kami untuk menyewa kendaraan dan mengendarainya sendiri untuk menempuh perjalanan dari Ende ke Labuan Bajo terlaksana. Jarak pandang hanya 2 meter, men! Pak supir begitu sabar meniti jalan yg berkelok-kelok. Sesekali kepalanya melongok keluar jendela untuk memastikan jalur yg diambil adalah aspal, bukan jurang. Gw bisa ngerasain kesulitan pak supir, yg gw lakukan hanya berdoa sepanjang jalan, sambil menemani pak supir untuk ngobrol biar ada teman bicara, karena memang kondisinya gelap sekali pada saat itu.

Disela-sela perjalanan bernuansa adventure tersebut, gw melihat seorang wanita yang berjalan seorang diri di pinggir jalan, tanpa penerangan apapun! Pak supir bilang kalau orang sini biasa seperti itu. Gw cuma bingung bagaimana mereka bisa tau jalan kalau gak ada lampu sama sekali. Mungkin memang udah terlalu sering kali yah mereka jalan disitu, jadi meskipun gelap, gak perlu takut salah jalan. Pak supir juga menceritakan ke Gw kalau seumur hidupnya menjadi supir dia belum pernah menjumpai atau mengalami kejahatan sepanjang Pulau Flores ini. Jadi yg namanya "bajing luncat", geng motor atau sebagainya itu gak bakalan ada. Insya Allah aman... Orang jalan sendiri aja gak pake penerangan aman...

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yg melelahkan kami sampai juga di Labuan Bajo, checkpoint kami berikutnya. Langsung saja kami mencari penginapan yg berjejeran di sepanjang jalan. Sayangnya karena kami baru sampai di Labuan Bajo jam 12 malam, jadi semua penginapan sudah tutup. Kami mencoba mengetuk satu2 penginapan yang ada. Salah satu pemilik penginapan ternyata belum tidur dan menyambut kami. Kami dipersilakan untuk melihat-lihat. Kami langsung tertarik dengan tempat dan harganya. Hanya saja, saat si pemilik penginapan tau kalau kita bawa 2 orang bule, si pemilik penginapan langsung melarang kami untuk menginap disitu. Tanpa alasan yg jelas, dia hanya bilang, "Maaf, kami tidak menerima orang asing...". Gw menjelaskan ke Luca dan Samia yg pada saat itu keadaan kami semua sedang lelah dan butuh istirahat. Luca langsung emosi dan menanyakan kenapa orang asing tidak boleh menginap disitu.
Setelah berdebat panjang dan tawar-menawar, akhirnya kami diijinkan juga untuk menginap semalam di penginapan itu, tapi dengan syarat besok paginya kami harus langsung pindah ke tempat lain. Baiklah, daripada tidur di jalan, kami langsung memasukkan barang-barang kami ke dalam dan langsung beristirahat. 

masih bersambung... ^^
Journey To The East (part 4 - Habis)

Komentar

  1. Wow... hai hai..saya dari Flores juga.. Senang sekali kalian telah ke pulau saya.. :p
    Ceritanya seru dan sangat berkesan. Ditunggu kelanjutannya ya... ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phunsukh Wangdu

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Another Cheesy Thing