Dahlia, Endomondo dan Kenaikan Harga BBM


Perjumpaan pertama gw dengan Dahlia kira-kira sekitar 6 bulan yang lalu. Waktu itu gw sengaja pulang ke Bogor karena ada sepupu gw yang jauh-jauh datang dari Medan udah lama gak ketemu. Waktu itu juga gw sekalian mau ngurusin KTP yang sudah habis masa berlakunya.

Setelah 2 hari berada di rumah, gw baru menyadari keberadaan sepeda lipat berwarna merah ini teronggok di garasi. Sudah dari semester awal kuliah gw memimpikan untuk punya sepeda lipat yang flexible dan bisa dibawa kemana-mana. Namun apa daya tabungan tiap semester selalu terkuras buat mengobati penat dengan jalan-jalan. Sampai akhirnya gw melihat 'si merah' ini dan langsung jatuh cinta pengen langsung gw pinang dan gw angkut ke Jogja.

Setelah having a conversation sama Ibu dan Papah, akhirnya gw pasang muka memelas dan minta ijin untuk bawa ini sepeda ke Jogja. Sepeda itu biasa dibuat papah olahraga dan ke warung katanya, tapi gak sering-sering amat. Awalnya mereka gak ngebolehin. Tapi pas hari H saat dimana gw akan bertolak kembali ke Jogja, tiba-tiba itu sepeda udah dilipet rapih plus dibungkus pake kardus sama papah buat gw bawa ke Jogja. Waaah....betapa senangnya...



Selama di Jogja sampai sekarang, Dahlia yang selalu menemani gw pulang pergi antara kampus dan kosan, selain 'Fitri' yang sekarang lebih sering parkir di kampus (hemat BBM). Kadang-kadang kalau weekend, Dahlia gw ajak jalan-jalan sekalian olahraga ke Kaliurang dan sekitarnya.

Di kampus, Dahlia ternyata banyak penggemarnya. Temen-temen gw pasti pengen minjem kalau udah liat dia parkir di depan Kandang Munyuk Sipil. Gak heran baru beberapa bulan udah terdapat lecet-lecet di body nya akibat orang-orang yg tidak bertanggung jawab. Yaaah sudahlaaah...

Sebelum pikiran pembaca semakin ngawur kemana-mana, lebih baik gw jelaskan dulu siapa/apa itu Dahlia. Jadi, sepeda lipat yang barusan gw ceritain itu gw kasih nama Dahlia, lebih lengkapnya Dahlia Selinata (Sepeda Lipat Punya Cinta). Sepeda lipat merk Dahon seri Mu P8 ini adalah partner kedua gw setelah 'Fitri' (Supra Fit-S 100cc). Maklum, biar gak terasa 'sepi'. Hehehehehe...

Seperti yang gw bilang, sudah hampir 6 bulan ini Dahlia menemani gw pulang pergi antara kampus dan kosan, atau menemani gw jalan-jalan menghabiskan weekend ke Kaliurang. Bahkan pernah gw gotong naik kereta buat sepedaan di Bandung. Terakhir, sekitar 4 hari yang lalu Dahlia gw ajak jalan dari Jogja ke Solo. 4 jam, 65 kilometer! Mantap!

Jadi, ceritanya gw lagi uji coba terhadap si Dahlia dan tentunya diri gw sendiri. Gw penasaran gimana sih rasanya bersepeda jarak jauh. Seberapa kuat stamina gw dan betis gw menggenjot pedal si Dahlia ini untuk sampai ke tujuan tertentu. Bagaimana rasanya balapan sama truk-truk besar di lautan aspal sambil diterpa panasnya sinar matahari. Semua itu gak bisa gw rasain kalo gw hanya terus berkhayal-khayal dan bertanya bagaimana rasanya bersepeda jarak jauh itu. Makanya gw nyoba, dan ternyata mengasyikkan!

Bersepeda jarak jauh itu mirip seperti naik gunung. Kita mengayuh dan mendaki sampai lelah untuk mendapatkan atau mencapai sesuatu yang kita inginkan. Perjuangan. Tentu tidaklah mudah. Namun bayangkanlah perasaan ketika kita menggapai tujuan kita tersebut setelah perjuangan yang sangat sangat melelahkan. Meskipun hanya segelas jeruk hangat. Tapi, jeruk hangat yang dinikmati setelah bersepeda sejauh belasan kilometer sambil menempuh tanjakan yang hampir 40 derajat kemiringannya itu beda rasanya. Apalagi ditambah pemandangan yang bagus dari ketinggian. Yah, kira-kira begitulah perasaan yang gw rasakan.

Dahlia di Jalan Dago Giri - Maribaya , Bandung
Dari sini, gw bermimpi suatu saat gw akan melakukan perjalanan sepeda jarak jauh gw sendiri, dengan tujuan gw sendiri, dan cerita gw sendiri, seorang diri. Terlihat agak menyedihkan sih sebenarnya...

Ini semua sebenarnya berawal dari buku Bersepeda Membelah Pegunungan Andes yang gw beli tahun lalu. Buku ini ditulis berdasarkan catatan perjalanan bersepeda jarak jauh sang penulis dari La Paz, Bolivia sampai ujung selatan benua Amerika, Punta Arenas di Cile sana, seorang diri...sekali lagi...seorang diri!

2012 lalu gw baca buku ini dan seketika pecah sudah kelenjar 'travelinin' gw. Orang ini lah yang menginspirasi gw buat bermimpi untuk melakukan hal yang sama, meskipun gak sama-sama banget. Sang legenda pesepeda jarak jauh, Bambang Hertadi 'Paimo' Mas. Gila!

Selain Om Paimo, beberapa tokoh lain juga cukup terlibat dalam mempengaruhi gw untuk melakukan perjalanan sepeda jarak jauh. Silahkan browsing dengan kata sandi "Kayuh Pedal Cumbu Indonesia". Ini merupakan tajuk ekspedisi bersepeda keliling Indonesia oleh 2 orang 'gila' dari Bogor, Cliff Damora dan Anto (Koboi Insap) namanya. Dalam rencananya, mereka akan menghabiskan 2 tahun hidupnya untuk ekspedisi ini. Malah kalau sempet sih coba deh liat profil akun Twitter-nya Cliff Damora (@flyingcliff), disitu tertulis, "Pergi dengan cinta | 1 Tahun Kayuh Pedal Cumbu Indonesia | 3 tahun berhenti kerja | 5 tahun lupa wanita". Gw sampe ketawa guling-guling bacanya. Mungkin dia memang merelakan banyak waktunya untuk hobinya yang satu ini, sampai-sampai lupa kalau menikah itu juga ibadah. Hihihihi...

Lepas dari itu, denger-denger saat ini mereka sudah sampai di Sulawesi. Rencananya mereka akan terus ke timur sampai ke Papua, barulah putar balik ke Kalimantan dan Sumatra sebelum kembali lagi di titik start di kota Bogor. Yang paling gw salut dari orang-orang ini adalah, mereka sama sekali tidak mengemis dan meminta sponsor untuk mewujudkan mimpi mereka. Semua murni usaha sendiri dan kehendak Tuhan.

Sebenarnya gw juga bingung apa yang mereka cari dari semua ini. Sampai-sampai harus meninggalkan keluarga bahkan sampai meniggalkan pekerjaan yang notabene adalah mata pencaharian. Malahan ada yang sampai lupa wanita, demi sebuah hasrat. Tapi entah mengapa, sebagian hati gw merasa terpanggil dan tertarik untuk melakukan hal yang sama. Apalagi setelah bersepeda antara Jogja dan Solo beberapa waktu yang lalu. Ini semacam panggilan hati. Makanya, suatu saat gw bermimpi akan melakukan suatu perjalanan jauh gw sendiri dengan sepeda seperti orang-orang yang telah menginspirasi gw ini. Semoga saja...

Satu lagi, jadi ceritanya akhir-akhir ini gw lagi keranjingan pakai aplikasi yang namanya Endomondo. Singkatnya, aplikasi ini bisa nge-track jalur, waktu tempuh, ketinggian, kecepatan dan juga kalori yang terbuang selama kita melakukan olahraga semacam lari, jalan kaki, bersepeda, dan lain-lain yang berpindah tempat. Aplikasi ini gw pasang di handphone dan bisa digunakan tanpa layanan seluler alias tanpa pulsa, melainkan melalui layanan GPS satelit. Dengan kata lain, tidak menguras pulsa dan aplikasinya pun gratis. Menarik bukan? (gw emang agak gaptek dan ketinggalan jaman sih, maaf). Selain itu, kelebihan lainnya adalah Endomondo ini memiliki jaringan sosial yang mirip seperti Facebook dsb. Jadi selain posting hasil latihan/kegiatan kita, kita juga bisa saling berkompetisi sesama teman atau akun-akun lain di jaringan Endomondo. Pamer sedikit gakpapa. Yang dipamerin kan hasil latihan, jadi biar orang lain terpacu dan ingin mengalahkan rekor kita juga dengan melakukan olahraga yang lebih. Hasilnya, kompetisi yang sehat dan menyehatkan. Aku sehat, kamu sehat, dia juga sehat. Betul tidak? Daripada marah-marah ngeributin harga BBM yang naik, mending kan energinya dipake buat olahraga.

Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Stay young !

Record hasil sepedaan Jogja - Solo kemarin (endomondo.com)

Komentar

  1. Bike-bike terus om.. semangaaat ;)

    BalasHapus
  2. Wih! kok bisa nyasar ke sini om? Semangat juga om! kapan2 gowes bareng kita...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phunsukh Wangdu

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Another Cheesy Thing