Pantai Code

Dampak dari letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu masih terasa sampai sekarang, dan mungkin akan berlangsung sampai lama. Dari mulai rumah-rumah korban yang hancur lebur rata oleh tanah, ladang pertanian yang lumpuh total, sampai banjir yang bercampur material yang dapat merobohkan perkuatan-perkuatan lereng di bantaran sungai-sungai.

Beberapa hari yang lalu gw bersama ForKom Teknik Sipil se-DIY dan mahasiswa dari UII turun ke bantaran kali Code untuk membantu warga membuat tanggul penahan banjir. Fungsinya untuk menahan air masuk ke pemukiman warga jikalau banjir terjadi (#nowpaling Jikalau - Naif). Tanggulnya sendiri dibuat sederhana dan memanfaatkan bahan yang ada. Jadi pasir material dari Gunung Merapi yang mengendap di sungai, yang jumlahnya sangat banyak itu dikeruk dan dimasukkan kedalam karung beras lalu di-ikat. Nah, satu persatu karung beras yang telah terisi pasir ini disusun sedemikian rupa di pinggiran sungai membentuk sebuah tanggul dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter. Ini buka pekerjaan yang mudah...

Pengikat karung
Tentunya untuk mengerjakan ini diperlukan tenaga manusia yang banyak agar efektif. Dibantu warga, para relawan membuat tanggul satu persatu dan menyusunnya sepajang pinggiran kali Code. Ada yang menggeruk pasir, ada yang bagian masukin pasir ke karung, ngiket, dan bagian ngangkut-ngangkut karung yang udah diisi untuk kemudian disusun. Karena cuaca wakt itu amat panas, ada juga yang iseng maen air di sungai -_-

Penggeruk pasir (bukan) ilegal
Yang bikin gw takjub, material pasir dari gunung Merapi itu banyak banget, sampe kali Code yang dulu kedalamannya bisa sampe 1,8 meter sekarang hanya selutut kaki paling dalem. Itu akibat pasir yang mengendap di dasar sungai. Dan ada yang lebih bikin gw takjub lagi, ternyata tempat yang gw pijak saat itu belum pernah ada sebelumnya. Jadi gw berdiri diatas endapan pasir yang tertumpuk di belokan sungai, saking banyaknya, sampai melebihi tinggi mukai air sungai. Wih! Jogja punya tempat wisata baru nih... Pantai Kali Code...
Pantai Code
Beberapa hari setelah itu, hujan yang sangat lebat mengguyur Yogyakarta. Banjir! 
Mudah2an tanggul yang sudah dibuat bisa berfungsi dengan baik.
Malamya setelah hujan mereda, Tim Posyanis UGM memantau daerah bantaran kali Code dan mereka semua hanya bisa menggelengkan kepala.
Besok paginya, tepat saat Tahun Baru Islam gw pun ikut menggelengkan kepala setelah berada di lokasi dan melihat apa yang telah diakibatkan oleh banjir semalam. Tanggul yang telah dibuat beberapa hari lalu tidak bisa berbuat banyak, bahkan beton pun hancur tergerus aliran air sungai yang banjir bercapur material-material Merapi.
karung tanggul yang udah jadi
Jadi, menurut warga ketika banjir terjadi, tak lama perkuatan beton untuk menahan lereng di seberang pemukiman warga hancur tergerus aliran dan jatuh ke sungai sehingga menimbulkan gelombang seperti tsunami. Gelombang air tersebut lebih tinggi daripada tanggul yang telah dibuat sehingga air dapat masuk ke pemukiman. Alhasil rumah warga yang di pinggir kali pas rusak parah serta kemasukan sejumlah pasir yang banyak.

Hari itu juga kita, Tim Posyanis UGM membantu warga untuk mempertinggi tanggul dan memperbaiki tanggul yg rusak. Dengan tenaga semampunya, mudah-mudahan banjir tidak akan merusak lebih parah dari sebelumnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Phunsukh Wangdu

Cerita Perjalanan Backpacking Bali-Lombok (lanjutan)

Another Cheesy Thing